Uncategorized

Ingatan dan Impian.

IMG-20150610-WA0000

Terkadang ingatan itu datang dengan begitu manis, saat-saat kejadian masa lalu kembali ditayangkan didalam otak dan menghadirkan senyum. Ingatan yang manis bersama dengan secangkir kopi hitam siang ini adalah kombinasi yang pas untuk melewati siang yang begitu terik dan kehingarbingaran kehidupan. Menikmatinya dengan kembali merangkai mengenai ingatan masa lalu bersama dengan impian-impian yang pernah diucapkan saat itu.

Sudah hampir seminggu tentang perayaan kemerdekaan Indonesia, kita pun disuguhi mengenai cerita kemerdekaan, bagaimana kita mengingat kembali perjuangan-perjuangan yang dilakukan untuk mendapatkan impian mengenai kemerdekaan bangsa Indonesia.

Ingatan dan impian.

Ingatan itu membawaku kembali ke masa-masa dimana aku mengenakan putih merah, masa dimana aku dapat merasakan kemerdekaan untuk bermain bersama dengan teman-teman setiap sore setelah pulang sekolah. Masa dimana sepakbola merupakan olahraga sekaligus permainan yang rutin untuk kami.

Sepakbola yang begitu sederhana dengan beralaskan aspal dan bergawangkan sandal. Sebelum bermain melakukan undian dengan gambreng atau suit untuk menentukan tim. Aturannya pun begitu sederhana, bola dianggap keluar bila keluar dari lapangan badminton atau bola masuk ke got, tinggi gawang tergantung dari seberapa tinggi lompatan kiper, dan waktu permainan tergantung dengan seberapa banyak tim yang terbentuk.

Setiap sore kami berkumpul di lapangan badminton dekat rumah dan biasanya setiap Selasa dan Kamis waktu bermain harus menunggu hingga waktu pengajian di Masjid selesai baru bisa main. Yang bermain bukan hanya anak-anak yang berada di sekitaran lapangan, tetapi anak-anak beda RT yang merupakan teman sekolah atau saudara kami.

Ah, ingatan ini adalah bagian dari hidup yang manis dan ingatan itu kembali hadir ketika seorang teman yang sedang bekerja di Maluku mengirimkan sebuah foto saat anak-anak disana bermain sepakbola di pantai saat sore. Dia pun sempat bercerita bahwa senyuman anak-anak saat bermain sepakbola disana begitu lepas dan bahagia.

Mungkin, bukan hanya tentang anak-anak yang di Maluku yang bahagia bermain sepakbola. Namun, hampir sebagian besar anak-anak ketika bermain sepakbola dapat merasakan kebahagiaan dan kemerdekaan dalam dirinya. Tidak mempedulikan apa yang orang bicarakan mengenai cara dia bermain, sepatu apa yang ia kenakan saat bermain, dan baju sepakbola yang ia kenakan pun bisa saja dibeli saat pasar malam digelar atau di toko-toko yang menjajakan dengan harga yang sangat miring namun tetap membuat mereka puas.

Sepakbola yang sebagai pelarian dari kerasnya kehidupan nyata, sepakbola yang dapat menjadi sebuah alat untuk memerdekakan diri dari kehidupan yang begitu menghimpit. Dalam ingatanku, sepakbola adalah merdeka. Sepakbola merupakan bagian untuk menyatukan kami. Sepakbola adalah sebuah permainan yang kami mainkan setiap sore hingga matahari kembali ke peraduannya. Sepakbola adalah bagian dari kami untuk dapat bermimpi tentang masa depan kami, meski pada akhirnya mimpi itu hanyalah menjadi sebatas mimpi.

70 Tahun Merdeka. Lapangan-lapangan untuk bermain sepakbola semakin sedikit, lapangan itu berubah menjadi beton-beton yang terpancang. Jalan-jalan yang terkadang kami pakai untuk bermain sepakbola sudah semakin ramai dengan kendaraan bermotor. Tempat kami bermain sepakbola sudah masuk kedalam gedung dengan harga sewa untuk memakainya.

Ah, sepakbola dalam ingatan masa kecilku begitu indah dengan kebebasan yang dimiliki dalam memainkan si kulit bundar. Keringat-keringat yang menetes dengan tawa dan canda saat bermain melepaskan mengenai tugas sekolah besok apa, keringat dan lelah yang digantikan dengan beberapa plastik minuman orson yang dibeli dengan patungan.

Ingatan-ingatan tentang masa lalu menghadirkan sebuah impian mengenai sepakbola pada masa ini. Bermain sepakbola bersama dengan teman-teman lama, melepaskan beban berat mengenai persoalan kuliah, skripsi, pekerjaan, atau beban pertanyaan kapan lulus? Kapan nikah? Kapan kerja? Kapan punya anak? Dan, segala pertanyaan yang membosankan dengan diawali KAPAN?

Impian-impian mengenai sepakbola untuk negeri ini. Sepakbola yang memang sudah kusut sejak lama dan semakin kusut, sepakbola yang terkukung dalam belenggu kekuatan dibaliknya, sepakbola yang terkadang menjadi alasan untuk bertikai, sepakbola yang begitu sulit untuk dinikmatin dengan begitu sederhana seperti anak-anak kecil yang menikmati sepakbola dengan tawa dan canda.

Sepakbola negeri ini hanya menyisakan mengenai impian dan harapan, ingatan-ingatan tentang masa lalu menjadi sebuah cerita yang begitu indah untuk dirawat dan disimpan, tanpa berani untuk kembali menghidupkan cerita indah masa lalu. Sepakbola negeri memang terus bertumbuh dengan berbagai pertanyaan dan drama didalamnya, kapankah sepakbola menjadi salah satu olahraga yang dapat membanggakan bagi negeri ini dengan prestasi dan pembinaan usia mudanya yang baik?

Ah, memang sepakbola dalam ingatan dan impian itu begitu indah. Seperti ingatan tentang sepakbola pada masa putih merah yang dapat bermain sepakbola dengan gelak tawa bebas, bermain dengan gawang sandal dan beralaskan aspal. Karena, sepakbola dapat dijadikan salah satu alat untuk memerdekaan diri dari segala kepenatan hidup ini.

Seperti dalam lagu Silampukau yang berjudul Bola Raya dan juga obrolan singkat dan kiriman foto oleh seorang teman yang bekerja di Maluku yang menjadi ide dalam kepenulisan kali ini. Ah, tiba-tiba jadi beneran ingin kembali ke masa silam bermain bersama anak-anak TGOJ.

Foto : dokumentasi Angel saat di Ternate.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s