Uncategorized

Menepi Dalam Keterasingan.

sp-jsoccer-a-20150817-870x608

Terkadang kita memerlukan waktu untuk menepi dari segala riuh dalam hidup. Entah itu dalam pekerjaan yang begitu menumpuk, urusan kuliah yang tak kunjung menemukan titik terang untuk mencapai kelulusan, atau urusan organisasi yang menyita seluruh waktu dan tenaga untuk menjalankannya.
Ah, setiap urusan ini begitu penuh dengan keriuhan yang tak kunjung selesai. Rasa lelah terkadang hadir untuk kita menepi untuk sementar, sebentar saja. Bahkan, pada keramaian pun terkadang rasa sunyi yang memenuhi dalam hati. Keramaian yang begitu sunyi membuat kita merasakan berada dalam keterasingan yang sama sekali kita tidak pernah mengenal atau mengerti untuk satu waktu dan tempat kita berada dimana.


Urusan sepakbola adalah urusan yang bukan hanya melulu yang terjadi di lapangan, tentang kemenangan dan kekalahan. Sepakbola sendiri lebih dari 90 Menit, lebih dari apa yang terjadi di lapangan, lebih dari mengenai data dan statistik yang menyertai setiap pembahasan. Ah, sepakbola memang begitu ramai dan begitu berisik.
Pada keramaian tersebut, entah mengapa ada sesuatu yang mengusik dan membuatku ingin berhenti dari dunia sepakbola yang begitu digemari oleh banyak orang, yang begitu mudah menjadi topik pembicaraan dalam masyarakat.
Persoalan sepakbola dalam negeri yang begitu menyita perhatian dengan cerita drama yang tak kunjung usai, padahal mereka sama-sama memiliki dalih pembelaan atas nama perbaikan kualitas sepakbola nasional, namun pada nyata sama-sama berdalih atas nama ego masing-masing yang ingin mempertahankan eksisetensi dan kekuasaan.
Permasalahan sepakbola dalam negeri ini memang belum selesai, namun gaung kompetisi sudah kembali dimulai setelah beberapa bulan terombang-ambing dalam ketidakpastian tentang masa depan kompetisi. Semoga saja kompetisi yang dijalankan ini tidak hanya sekedar sebuah manisan belaka dan berjalan hanya sekedarnya hingga tengah lalu berhenti.
Sepakbola dibelahan Eropa pun sudah kembali bergulir. Dua klub yang mampu membuat saya jatuh cinta sudah kembali pentas dengan harapan-harapan baru yang kembali diangkat kepada dua klub ini, Arsenal di Inggris dan Feyenoord di Belanda.
Tetapi, kini sepakbola dan segala cerita yang saya ikuti menjadi begitu asing. Menjadi sebuah kesunyian yang entah apa alasannya. Mengikuti, membaca, dan membicarakannya menjadi begitu aneh untuk saya. Oiya, menulis tentang sepakbola pun menjadi begitu agak aneh setelah hampir tujuh bulan tidak menulis tentang sepakbola.
Keterasingan itu semakin menjadi-jadi ketika langkah kaki ini melangkah ke dalam tempat yang begitu asing untukku, semuanya tidak dapat saya mengerti tentang hal yang berada di tempat ini. Tidak menguasai mengenai nama-nama klub yang bermain di dalam kompetisi sepakbolanya, tidak mengerti cara membaca tulisannya, dan benar-benar saya kagok ketika memasukinya.

**
Sepakbola Jepang yang begitu asing untukku.

ryo
Hanya sekedar mengetahui dari pemain yang bermain klub besar di Eropa, sebuah kompetisi yang pernah dijejaki oleh Arsene Wenger, dan negeri dimana pemain kesukaan saya lahir yaitu Ryo Miyaichi yang akhirnya sekarang ia harus pergi meninggalkan Arsenal untuk berlabuh bersama St. Pauli.
Sebelumnya saya tidak mengetahui siapa itu Usami, Muto, atau Morishige. Bahkan, untuk nama klub-klubnya saja hanya beberapa yang saya tahu sebelum akhirnya, tercebur untuk bermain dalam tempat yang begitu asing ini. Bermain untuk belajar mengenai sebuah kesunyian dan kebebasan dalam memamahi arti dari keterasingan dari dunia sepakbola nasional atau Eropa dengan segala keriuhannya.
Sepakbolalah yang membawaku memberanikan diri untuk mengetahui seluk-beluk Jepang dalam keterbatasan hingga membawaku berkenalan dengan musik, drama, dan kulturnya. Sepakbolalah yang memberikanku sebuah ranah yang begitu asing ini untuk kujejaki. Sepakbola dan Kapten Tsubasa yang memperkenalkannya.
Kesunyian yang kualami untuk menikmati sebuah kompetisi yang memberikan label sebagai kompetisi terbaik di Asia. Menikmati sepakbola, selayaknya menikmati musik-musik Jepang yang semakin dikulik semakin menarik dengan cerita didalamnya. Menikmati sepakbola, selayaknya para fans idol yang berteriak atau bernyanyi untuk para idolnya saat pertunjukkan. Menikmati sepakbola, sebagai mengeksperesikan diri dari kejenuhan rutinitas.
Sepakbola memberikan opsi untuk sebuah pelarian dari titik jenuh dan keramaian. Sepakbola memberikan tempat untuk menikmati hidup ini. Sepakbola memberikan kesempatan untuk kita dapat belajar mengenai sebuah sejarah, kultur, dan bahasa. Dan, kini sepakbola memberikan kesempatan untuk dapat bermimpi lebih jauh lagi.
Kini, aku menikmati waktu dalam keterasinganku pada bahasa yang sama sekali tidak aku pahami sebelumnya. Ah, rasanya ini seperti mimpi dalam keterasingan yang malah membawa kedunia imaji yang begitu luas.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s