arsenal

Tuesday With Arsene (Part 1)

RCmuseum2_2544351b

Sebuah karya tulisan Mitch Albom mampu memberikan saya ide untuk menulis dan kembali lagi setelah sekian lama rasanya begitu mandek dan tidak bersemangat untuk menulis lagi. Rasanya, ingin saja berhenti dalam menulis tentang sepakbola, namun Mitch mampu menyakinkan saya untuk kembali menulis lagi. Bila Mitch menuliskan tentang Morrie yang memberikan pelajaran tentang hidup setiap hari selasa bagi dirinya, mungkin saat ini saya sedang memainkan imajinasi saya seperti Mitch yang duduk diam mendengarkan cerita dari dosennya dulu setiap selasa di rumah Morrie.

***

Setelah hari-hari yang melelahkan, berkutat dengan kertas dan diskusi panjang bersama dengan para teman sejawatnya saya berhasil bertemu dengan seorang yang saya kagumi. Iya, dia memang tidak lagi muda, dengan keriput di bagian-bagian wajahnya, tubuhnya yang kurus, dan rambutnya yang mulai memutih. Dia menjadi sosok yang bertanggung jawab di sebuah klub yang memiliki logo meriam hampir dua dekade silam. Dia hadir dengan banyak keraguan terhadap kemampuan yang ia miliki, terlebih lagi ia didatangkan dari sebuah klub di Jepang.

Untuk bertemu dengan dia membutuhkan sebuah kesabaran yang ekstra dengan berbagai rutinitas kesibukkan yang ia lewati, belum lagi dengan para awak media yang terus berburu berita mengenai dirinya dan juga masa depannya di klub ini. Dan akhirnya, saat ini saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan semacam liputan di hari Selasa sebelum latihan tim utama dimulai.

Saya membuka pintu ruangannya dengan mengucapkan salam seperti yang saya sering lakukan. Tak disangka, ia membalasnya dengan senyum dan menyuruh saya untuk duduk di kursi yang berada di depan mejanya yang berantakan dengan bundelan kertas, buku, dan figura yang menghiasi mejanya. Saya memandangi takzim setiap tempat dalam ruangan itu dan mata saya sempat menemukan sebuah buku besar dengan sampul berwarna emas yang saya sendiri pun ragu dengan kebenaran dalam pikiran saya.

“Jadi, apa tujuan Anda datang menemui saya?” sebuah kalimat yang memecahkan keheningan di dalam ruangannya dan membuat saya bingung untuk harus menjawab apa.

“Saya ingin belajar tentang kesuksesan dari Bapak. Mungkin, bukan hanya sekali saya datang, tetapi ada kelanjutannya di kemudian hari. Apakah Bapak mengijinkannya?” ucap saya asal saat itu karena seluruh pikiran saya masih mengawang entah kemana dan tidak karuan saking bahagianya dapat bertemu dengan seorang idola yang lebih sering saya lihat di layar kaca.

“Ahahaha…” dia tertawa cukup keras ketika mendengar jawaban saya, “Apakah Anda benar-benar seorang reporter? Baru pertama kali saya mendapatkan seseorang reporter yang begitu unik dan cukup aneh seperti Anda ini.”

Saya hanya bisa tersenyum simpul mendengar jawabannya itu. Jantung saya berdegup dengan begitu cepatnya dan segala ketakutan muncul perlahan bersamaan dengan otak saya yang memproduksi skenario-skenario yang memiliki kemungkinan bisa terjadi.

***

tumblr_m6q1rdVAlH1qgodmlo1_500

Akhirnya suasana yang awalnya kaku dan tegang mulai perlahan mencair sesaat ketika saya mulai banyak berbicara mengenai kekaguman saya terhadap dirinya, cerita mengenai lika-liku percintaan saya terhadap klub yang ia latih saat ini, dan sedikit banyaknya membocorkan rahasia yang sebenarnya sudah ia ketahui, bahwa betapa banyaknya orang Indonesia yang merindukan kehadirannya bersama dengan klub kembali ke Indonesia.

“Menurut Anda, apa sebuah definisi dari sukses itu? Apa yang menjadi takaran untuk mengatakan tentang kesuksesan dalam hidup ini?” tanyanya dengan sebuah senyum yang membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.

“Ketika seseorang berhasil meraih prestasi yang mampu membuat namanya diingat oleh banyak orang dan mendapatkan kehidupan yang cukup layak.” Aku menjawab dan dia malah tertawa sambil merapikan tatanan rambutnya yang tidak rapih.

“Hanya sekedar itu definisi dan takaran yang Anda miliki untuk sebuah kesuksesan? Lalu, apakah hidup ini hanya tentang sebuah prestasi, popularitas, dan uang?” pertanyaannya kali ini semakin membuat saya bingung dan tak kunjung paham dengan maksud dari pertanyaan yang ia ajukan.

“Kunci awal dari sebuah kesuksesan ialah sebuah visi.” Lanjutnya ketika melihat keningku yang berkerut memaksakan untuk berpikir menemukan jawaban pertanyaannya.

“Visi? Maksudnya?”

Ia tersenyum, “Apalah artinya tentang prestasi, popularitas, dan uang bila seseorang tidak memiliki visi dalam hidupnya? Tiga hal itu dapat diraih bila kita memiliki visi hidup yang jelas dalam hidup, bila kita tidak memikinya, tiga hal itu tidak dapat diraih dalam hidup. Visi yang jelas membuat kita tahu apa yang perlu kita lakukan dan bagaimana cara untuk mewujudkan visi yang kita miliki.

Sebuah visi. Sebuah mimpi. Orang-orang mungkin akan menertawakanmu tentang itu, mungkin juga akan mengatakan kepadamu, bahwa kamu adalah orang yang cukup gila dan bodoh dengan memercayakan hidupmu pada visi dan mimpi yang kamu miliki, tapi ini lah hidup.

Mungkin banyak orang yang menertawakan mengenai visi saya mengenai klub ini, mengatakan saya gila dengan ide-ide yang saya percayai dan menjalankan visi itu dalam misi-misi yang menjadi langkahnya. Saya memiliki visi yang cukup jelas, menjadikan klub ini besar dan memiliki prestasi dengan reputasi yang besar. Dan, untuk mewujudkannya misi saya adalah membuat stadion besar yang modern untuk menampung para supporter dan mendapatkan keuntungan dari hal sana.

Lihat sekarang! Kita memiliki stadion yang besar dan modern, sebuah langkah yang fantastis dengan pengorbanan yang berdarah-darah di era modern saat ini. Bukankah itu cukup membanggakan? Satu misi sudah kita lakukan, selanjutnya tinggal menjalankan misi kedua dan seterusnya yang saling berintegrasi untuk mewujudkan visi yang kami miliki.”

Saya tetap duduk diam memperhatikan apa yang diucapkannya sambil sesekali mencatat point yang diucapkannya di kertas catatan yang saya bawa. Berkali-kali di tengah pembicaraannya yang mulai serius, ia melemparkan kalimat-kalimat canda dan pertanyaan untuk menghidupkan suasana di dalam ruangan.

Tidak terasa waktu terus melangkah dengan cepat tanpa kami berdua sadari. Tiba-tiba suara ramai dari lapangan yang tidak jauh dari ruangan sudah mulai terdengar. Hingga akhirnya suara ketukkan pintu menghentikan semua pembicaraan kami pada saat sesi ini.

Saya mengucapkan terima kasih untuk waktu dan materi sekaligus wejengan hidup yang diberikan kepada saya sesi itu. Namun, ketika saya mulai berjalan keluar dari ruangan, dia memanggil nama saya dan mengatakan, “Minggu depan, silah kembali datang lagi dan saya akan kembali bercerita kepadamu lagi.”

***

Ah, sungguh beruntungnya saya karena bukan saya lagi yang meminta waktu untuk bertemu dengan beliau, tetapi beliaulah yang meminta saya untuk kembali lagi untuk melanjutkan ceritanya kepada saya dan saya melanjutkannya dengan tulisan.

Sebuah visi dalam hidup ini menentukan hidup? Kalimat yang diucapkan beliau terus merasuki pikiran saya dan saya menyadari bahwa saya pun tidak mengetahui apa yang menjadi visi dalam hidup saya dan tentang mimpi… saya memiliki mimpi tetapi tidak pernah mengetahui untuk mewujudkannya. Mungkin, orang tua itu benar. Mimpi yang kita miliki baiknya untuk dihidupkan dengan visi dan misi yang jelas dan terang dalam hidup.

Orang tua itu benar. Mungkin.

 

“If you’ve found meaning in your life, you don’t want to go back. You want to go forward. You want to see more, do more.” ― Mitch Albom, Tuesdays with Morrie

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s