bola

Mosi Tidak Percaya

164735_283865_foto_demo_pssi

Awan gelap masih saja menggelantung di langit Bekasi, dengan ditemani secangkir kopi hitam yang seharusnya pahit malah menjadi manis aku menikmati linimasa yang terus bergerak dengan topik pembicaraan yang tidak jauh dari kehangatan secangkir kopi. Persoalan mengenai kondisi sepakbola dengan riuh rendah permintaan masyarakat untuk membekukan PSSI.

Bila ingatanku tidak salah, sudah empat tahun setelah rejim Nurdin Halid jatuh dan selama waktu itu juga prestasi tidak kunjung baik-baik banget. Empat tahun dilalui dengan segala kemelut yang dilalui mereka dan selama empat tahun juga obral janji mengenai perbaikan, perbaikan, dan perbaikan untuk meningkatkan prestasi terus didengungkan oleh bapak-bapak yang terhormat dengan dasi dan pakaian safarinya.

Ah, mungkin karena aku sudah bosan dan hampir muak dengan janji-janji para politisi yang selalu setiap berbicara penuh dengan kemanisan yang dikontruksi dengan kuat dan tidak jarang mereka lupa dengan janji yang mereka ucapkan saat berbicara di depan layar kaca atau menarik simpati saat pemilihannya. Atau, karena sepakbola kita terlalu dekat dengan para politisi yang selalu berjanji sehingga gaya bicaranya pun hampir sama?

Empat tahun dengan harapan yang membumbung bagaikan asap pembakaran sampah, tinggi dan terus tinggi. Harapan dengan runtuhnya sebuah kekuasaan yang dipimpin oleh bekas napi dan selalu memiliki alasan pelindung utama mereka adalah statuta. Seperti layaknya sinetron yang penuh dengan drama, mereka yang jatuh kembali mencoba masuk kembali ke dalam sistem dan parahnya di dalam sistem itupun tidak kokoh malah dengan mudahnya membuka pintu terhadap orang-orang lama.

Harapan itu pernah muncul ditangan-tangan para generasi muda saat mereka berhasil juara di AFF U-19. Anak-anak yang langsung diklaim oleh pihak-pihak tertentu karena hasil kerja mereka, anak-anak yang menjelaskan bahwa bobroknya sistem pembinaan, menjelaskan mengenai sekelumit borok yang ada di tubuh sepakbola nasional. Anak-anak yang dengan usia masih muda diberikan beban begitu tinggi, porsi bermain yang dipaksakan dengan melakukan tur keliling sekalian mencari kehidupan untuk kas bapak-bapak terhormat.

Apakah kita tidak jengah dengan kondisi yang selalu seperti ini? kondisi yang memaksakan kita untuk tertawa di tengah kondisi yang memprihatinkan? Apakah salah untuk menuntut kejelasan mengenai kinerja kepengurusan selama ini? apakah kita salah untuk memberikan mosi tidak percaya kepada bapak-bapak berdasi yang terhormat?

Sepakbola merupakan salah satu alat yang dapat dipakai untuk pemersatu, namun sepakbola pun dapat dipakai untuk alat memecahbelahkan. Tergantung siapa yang memegang kuasa terkuat dan mau dibawa ke arah mana. Dan, sepakbola dapat menjadi alat perlawanan kepada para penguasa.

#BekukanPSSI merupakan salah satu bukti masyarakat masih peduli dengan kondisi sepakbola nasional. Mereka yang masih memiliki harapan memiliki sebuah organisasi yang bersih dan jujur. Mereka yang masih menaruh harapannya meski selalu dikecewakan dengan harapan mereka sendiri. Mereka yang tidak pernah lelah untuk berjuang meski ketika mereka melawan, mereka sendiri dibilang barisan sakit hati atau kelompok-kelompok yang dipengaruhi dengan suatu kepentingan tertentu.

#BekukanPSSI bukan mengenai tentang siapa, tetapi mengenai kerinduan akan adanya perubahan dengan bergerak bersama. Bergerak bersama dengan diskusi-diskusi yang menjadikannya tema yang dapat menarik massa dalam mengikuti diskusi tersebut. Bergerak untuk sesuatu yang lebih baik bagi sepakbola nasional.

Meruntuhkan kembali rejim yang berkuasa dengan segala kemanisan yang mereka tawarkan, meruntuhkan kesombongan bapak-bapak berdasi yang terhormat dengan sebuah tindakan yang membuat mereka kalang kabut. Meruntuhkan pikiran mereka yang berpikir bahwa kondisi sepakbola nasional baik-baik saja dan organisasi tertinggi layak untuk mendapatkan apresiasi atas usaha yang telah mereka lakukan. Meruntuhkan ketakutan mengenai ancaman-ancaman yang akan dikeluarkan oleh FIFA  seperti yang terus didengungkan bapak-bapak terhormat untuk mempertahankan kekuasaan.

Ini masalah kuasa, alibimu berharga kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?

Kamu tak berubah, selalu mencari celah lalu smakin parah, tak ada jalan tengah

Pantas kalau kami marah, sebab dipercaya susah jelas kalau kami resah, sebab argumenmu payah

Kamu ciderai janji, luka belum terobati

Kami tak mau dibeli, kami tak bisa dibeli. Janjimu pelan pelan akan menelanmu

Lirik dari Efek Rumah Kaca ini melukiskan secara sederhana mengenai kegeraman akan pemerintahan, namun lagu ini pun mengingatkanku mengenai kondisi yang sekarang terjadi. #BekukanPSSI merupakan salah satu bentuk kegeraman terhadap organisasi yang miskin prestasi namun begitu sombong dan angkuhnya berdiri menantang siapapun yang hendak melawan mereka.

Kami rindukan akan kemenangan. Kami rindu akan prestasi. Tetapi, kami lebih rindu lagi dengan kejujuran dan komitmen akan setiap janji yang diucapkan bapak-bapak. Kalau kami sudah tidak percaya lagi dengan mereka para bapak yang berdasi dan terhormat itu, lantas mereka mau apa? Kalau kami resah dengan janji manis mereka dan argumen pembelaan mereka yang payah, lantas salah kami untuk tidak percaya lagi kepada mereka?

Sepakbola bukanlah miliki mereka dan pasukannya, tetapi sepakbola adalah milik rakyat Indonesia begitulah yang seperti diucapkan bapak MENPORA saat ditanya dalam acara televisi. Bila, sepakbola adalah alat untuk melawan. Maka, inilah saatnya untuk melawan bapak-bapak tersebut.

Bilamana terjadi sebuah perubahan lagi, biarlah bapak-bapak itu dihukum tidak boleh lagi menjadi pengurus seumur hidup. Sebuah hukuman yang layaknya cukup adil, daripada hanya menghukum rumput-rumput liar yang hanya menjadi korban kecilnya.

ah, mungkin saya terbuai dengan lirik lagu ini. mungkin saja saya sedang bermimpi mengenai sedikit hal gila tentang sebuah mosi tidak percaya.

ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya

ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s