bola

Hadiah Untuk Pemerintahan Baru

suporter-timnas-di-aff-2014-_141122221618-921

Hujan baru saja berhenti menyiram sebuah planet yang setia menopang ibukota Jakarta. Hujan yang baru saja berhenti bersamaan dengan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan antara Indonesia melawan Filipina di pagelaran AFF 2014. Berhenti dan menyisakan kesedihan.

Terkadang, aku suka bertanya di dalam otakku sendiri, mengapa kita begitu mencintai olahraga sepakbola? Bahkan, tidak jarang rasa nasionalisme kita tumbuh sesaat ketika melihat sebelas pemain yang sedang bertarung di atas lapangan, kita berteriak dengan antusias hingga menangis sedih semuanya dicampuradukkan dalam waktu yang bersama.

Semuanya melebur menjadi satu rasa. Semuanya menjadi sebuah pertanyaan. Semuanya menjadi sesuatu yang sulit untuk dijawab meski dengan beberapa kata, tetapi begitu sulit untuk mendapatkan jawabannya.

Realistis dan pesimis tidak beda jauh bukan? Aku mulai menjadi seorang yang realis ketika pengumuman nama skuat yang akan berlaga di AFF 2014 di tangan Riedl seorang pelatih yang dulu begitu kita agungkan dan puja karena prestasinya yang membawa Indonesia menjadi negara yang nyaris untuk juara AFF untuk kesekian kalinya dan nasibnya setelah itu berakhir karena masalah dualisme di tubuh federasi.

Entah, aku pun tidak terlalu memahami mengapa menjadi seorang realis untuk timnas sepakbola Indonesia dalam belakangan ini. tidak ada semangat yang mengebu-gebu dan untuk menontonnya saja, aku merasakan bahwa biasa saja. Tidak ada yang lebih. Tidak ada yang terlalu istimewa.

Lalu, aku kembali bertanya pada diriku sendiri, mengapa di olahraga yang begitu disayangi ini begitu banyak berita yang mengiris hati daripada mengembirakan hati? Berbagai permasalahan tidak pernah selesai sampai akarnya, mungkin baru sampai ranting liarnya yang dirapihkan agar dilihat ada pembenahan bagi sepakbola Indonesia.

Empat tahun yang lalu, kita merasakan begitu luar biasanya Indonesia di ajang AFF, penampilan yang impresif mengantarkan sampai Final dan banyak pesepakbola luar yang memberikan dukungan kepada timnas Indonesia. Meski kita kalah oleh tetangga yang selalu membuat ribut tetapi saat itu masih ada harapan untuk pembaharuan.

Dua tahun yang lalu, permasalahan dualisme di tubuh federasi belum sepenuhnya sembuh. Permasalahan ini berlarut-larut hingga pemain pun menjadi terkotak-kotak dalam membela yang mana. Ada yang menamakan KPSI dan mereka menyatakan bahwa mereka yang seharusnya mewakili Indonesia untuk ajang ini dengan membawa liga mereka yang terbaik dan berjalan. Ada lagi yang mengatasnamakan bila yang mewakili Indonesia adalah dari federasi yang sah diakui oleh FIFA. Kedua kubu ini ribut dan ada yang tidak membolehkan para pemain yang bermain di liga yang dinaungi oleh salah satu pihak untuk bermain di timnas sepakbola pihak lawan hingga mereka mengusulkan untuk mengadu seperti ikan cupang untuk menentukan siapa yang berangkat untuk mewakili Indonesia di ajang AFF.

Tahun ini. Semua permasalahan dualisme terlihat sudah selesai, tidak ada lagi konflik yang jelas nyata seperti tahun sebelumnya. Mereka yang berkonflik seperti biasa, tertawa dan tersenyum bersama di depan sorotan kamera. Sebuah bentuk dagelan yang disajikan seperti adegan sandiwara para politisi-politisi umumnya.

Tahun ini. permasalahan dualisme itu memang terlihat sudah selesai, tetapi seperti yang aku tulis sebelumnya, yang dirapihkan hanyalah ranting-ranting liar agar pohon tersebut tetap tumbuh dan akarnya semakin merambat kuat.

Kita diberikan sebuah harapan yang hampir semu ketika melihat timnas U-19 dapat berprestasi di kancah internasional, seperti orang yang begitu dahaganya dengan sebuah prestasi yang membuat terhibur dari permasalahan dalam hidupnya. Kita merayakan dengan bahagia dan menyematkan nama generasi emas untuk timnas sepakbola Indonesia.

Kita merasakan bahagia. Begitu senang hingga kita lupa bahwa memang faktanya yang berprestasi adalah timnas junior bukan senior.

Apakah kamu merasakan kesedihan ketika melihat timnas U-19 yang dipuja itu runtuh? Atau, apa yang kamu rasakan ketika melihat Indonesia diluluhlantakkan oleh Filipina tadi sore dengan angka yang cukup besar?

Bagaimana mereka bermain tanpa semangat, bagaimana kesalahan demi kesalahan yang sepertinya mereka tidak pernah pelajari, bagaimana diperkosanya lini tengah hingga posisi itu tidak terlihat ada yang bermain di posisi itu.

Bukankah kita lelah menghadapi ini semua? Bukankah kita begitu lelah melihat timnas Indonesia yang teratur dalam ketidakteraturannya? Terkadang, kita bisa diberikan sajian timnas sepakbola Indonesia begitu luar biasa, tapi terkadang juga, kita diberikan betapa culunnya timnas sepakbola Indonesia.

Dan, inilah sebuah hadiah yang diberikan sebuah federasi yang sedang sakit kepada pemerintah baru. Sekedar untuk menyatakan diri mereka yang sedang sakit karena begitu sulitnya untuk berprestasi di tingkat seniornya.

Kalau pun sakitnya memang tidak bisa disembuhan dan tak kunjung membuat kita bangga dengan prestasi dari olahraga yang kita cintai ini. toh, masih ada olahraga lain yang dapat membuat kita bangga dan sering mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional daripada sepakbola bukan? Dan, olahraga di Indonesia juga bukan cuman sepakbola saja kan?

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s