bola

Terima Kasih, Coach.

225819_620
Semua yang memiliki awal pasti memiliki akhir dan di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Begitulah kata-kata yang sering aku dengar setiap kali sedang mengibur orang yang sedang patah hati karena telah ditinggalkan sang kekasihnya.
Tidak ada yang salah dengan pertemuan, tidak ada yang salah juga perpisahan. Hidup kita bukanlah roda yang tidak memiliki batas penentu dimana awal dan akhir, namun apakah hidup kita ini seperti garis linear yang memiliki titik awal dari satu titik dan menyambung ke titik lain hingga pada akhirnya menemukan sebuah titik pengujung di akhir dari sebuah perjalanan panjang kita ini.
Perpisahan tidak selalu diidentikan dengan kegagalan, ada dimana saatnya kita berpisah karena mendapatkan sebuah keberhasilan sehingga kita harus meninggalkan tempat yang lama untuk ke tempat yang baru.
Dan, ada dimana ketika perpisahan akan dirayakan dengan tangisan air mata haru saat kita harus meninggalkan atau berpisah dengan sesuatu yang telah menyatu dengan bagian dari kehidupan kita –dengan orang yang kita sayangi contohnya. Perpisahan yang dihadirkan dengan tangisan air mata pun terkadang menciptakan sebuah penolakan dan rasa sesal kenapa harus berpisah di saat semuanya terasa indah, di saat semuanya terasa baik-baik saja, di saat semuanya seperti hidup di dalam dunia cerita.
Suatu cerita di negeri yang penuh dengan dagelan ini, kita mengalami dua perpisahan dalam rentang waktu yang tidak jauh. Pertama kita harus berpisah dengan bapak SBY yang harus merelakan kursi kekuasaannya kepada presiden terpilih bapak Jokowi. Lalu, perpisahan selanjutnya setelah sebuah kisruh mengenai sepakbola gajah, kita dibuat terhenyak saat mengetahui sebuah perpisahan coach Indra Sjafri dengan anak-anak asuhnya yang ia bentuk dari awal dan membesarkannya bersama dengan staff kepelatihannya.
Tidak ada yang perlu diheranankan dengan pemecatan Indra Sjafri ini, sudah dari setahun yang lalu rumor mengenai pemecatan pun sudah berhembus ke publik dan di tambah kegagalannya membawa Indonesia ke piala dunia menambah kekuatan oleh ‘bapak-bapak’ yang memang dari dulu ingin memecatnya tetapi tidak memiliki celah akhirnya menemukan celah dengan kegagalan coach Indra.
Target yang ia canang memang membuat Indonesia lolos ke piala dunia saat melakukan presentasi kepada PSSI untuk menaikkan nilai yang ia tawarkan kepada PSSI untuk memilih namanya yang minim pengalaman dan akhirnya target inilah yang membuat PSSI tertarik untuk memilih dia untuk menjadi pelatih di timnas U-19.
Perubahan banyak yang ia lakukan hingga membuat semua lampu sorot media tertuju kepada anak asuhnya setelah menjuarai piala AFF U-19 dan ditambah dengan keberhasilannya mengalahkan Korea Selatan U-19. Harapan yang awalnya hampir sirna karena melihat begitu carut marutnya federasi, kompetisi, dan pembinaan usia muda membuat kita begitu cepat membuat cap generasi emas kepada mereka.
Sebelumnya mereka dianggap sebelah mata hingga akhirnya semua mata tertuju kepada mereka. Berkali-kali coach Indra membuat pernyataan mengenai lebih baik anak-anak jangan ditawarkan bermain iklan dan biarkan mereka berkembang. Namun apa daya, naluri mencari uang ‘bapak-bapak’ itu begitu cepat memanfaatkan situasi dan hampir saja coach Indra menjadi sasaran untuk dibuangnya setelah kegemilangan yang ia raih dari kerja kerasnya bahkan terkadang gajinya yang terlambat dan tidak dibayarkan.
Dia adalah sosok yang mengajarkan kita untuk berani dan percaya diri dalam bermimpi, bukan mimpi yang ecek-ecek tetapi mimpi yang besar sekalipun. Ia berani bermimpi sekaligus bertaruh untuk membawa Indonesia ke piala dunia meski banyak orang yang mengatakan itu adalah mimpi yang muluk-muluk dan begitu mengada-ada bahkan mungkin saja ada orang yang mengira ia berani mengatakan seperti itu karena habis mengirup daun lima jari yang membuatnya terbang. Tetapi tidak, dia berani bermimpi besar karena ia mengetahui potensi besar yang ia miliki dan ia berusaha keras untuk menjadikannya nyata.
Dia pun yang mengajarkan kita untuk terus berjuang dan tidak gentar dengan lawan besar yang kita hadapi. Mungkin laga melawan Korea Selatan dapat diberikan analogi seperti pertarungan Daud melawan Goliat seorang filistin yang tinggi besar dan digambarkan seperti mesin pembunuh di medan peperangan sehingga semua orang takut melawannya, tetapi tidak dengan Daud yang berani menantang dan membuat lawan besarnya itu terpukul jatuh tak dapat melakukan apa-apa. Melawan Korea Selatan semua tetap menjagokan Korea Selatan dapat menang dengan mudah karena memiliki nama besar yang mereka miliki, tetapi tidak bagi Indra yang berani menantang dan mengatakan akan mengalahkan Korea Selatan di Indonesia.
Dia pun yang mengajarkan kepada kita mengenai betapa pentingnya untuk selalu bersyukur dan berserah kepada Tuhan. Tidak jarang kita lihat pemandangan di setiap laga timnas sepakbola Indonesia U-19 saat mencetak gol atau meraih kemenangan mereka akan bersujud dan bersyukur. Ia menanamkan untuk selalu bersyukur dengan setiap pencapaian yang kita lakukan, anak asuhnya pun melakukan apa yang ia ajarkan.
Sekarang, kita sudah tidak akan melihat coach Indra Sjafri menemani anak-anak U-19 di setiap laga kedepannya. Semuanya telah berakhir, satu titik telah ia lewati dengan baik dengan memberikan begitu banyak pelajaran penting yang dapat kita lakukan dan yang terpentingnya ialah ia mengembalikan sebuah harapan mengenai sepakbola Indonesia belum mati dan sepakbola dapat kembali menjadi suatu variabel harapan di masa depan yang lebih hebat lagi.
Coach Indra Sjafri, pemecatannya memang bukanlah suatu yang istimewa karena ia telah gagal melakukan sesuatu yang ia janjikan untuk meloloskan Indonesia ke piala dunia dan semakin tidak istimewanya karena memang yang memiliki awal pasti akan ada akhirnya –cepat atau lambat. Tetapi, sosoknyalah yang membuat dia menjadi begitu istimewa dan kini dia telah berpisah meninggalkan sebuah kebobrokan yang ia tentang dan menjungkirbalikkan segala sesuatunya, ia hadir bagai sebuah oase di gurun pasir.
Terima kasih untuk waktu, jerih payah, dan keringat yang kau berikan bagi bangsa ini, coach Indra Sjafri. Ah, tidak lupa saya mengatakan terima kasih karena kami memiliki harapan lagi bagi sepakbola Indonesia yang sedang kacau balau.
Sekali lagi. Terima Kasih, Coach Indra Sjafri!

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s