bola

Sayap-Sayap Patah

20141013_200116_timnas-indonesia-u-19-indra-sjafri-menangis

Sang garuda muda itu akhirnya harus terjatuh kembali ke tanah dengan sayap-sayapnya yang patah, lemah tak berdaya terkulai tertutup dengan debu-debu. Garuda yang dengan mudah mendapatkan seluruh perhatian masyarakat. Mereka mengatakan kita memiliki harapan baru di masa depan dengan garuda muda atau garuda jaya.

Garuda yang kulihat itu masih terlalu muda untuk menanggung beban ekspektasi yang besar dari jutaan orang yang rindu untuk melihat sepakbola Indonesia sedikitnya dapat berjaya dan membuat hiburan di tengah panasnya situasi politik yang terjadi di negeri ini pada saat itu.

Kerinduan itu lahir saat mereka, anak-anak muda yang berjibaku di lapangan hijau dengan mengatasnamakan Indonesia juara di tingkat ASEAN. Sorot mata langsung tertuju kepada mereka, banyak yang mengatakan bila mereka adalah generasi emas, garuda jaya, atau apapun yang membuat mereka seperti layaknya pahlawan-pahlawan yang telah mengalahkan musuh berlaksa-laksa.

Bahu mereka yang masih kecil dan rapuh untuk menanggung beban yang sebegitu besarnya, belum lagi mereka yang harusnya dibiarkan berkembang sesuai dengan umurnya atau dibiarkan untuk mengikuti sebuah kompetisi yang teratur dipaksakan untuk mengasilkan dana segar untuk federasi dengan dibuatkan semacam sinetron yang kejar tayang. Mereka bermain dua hari sekali dalam satu kali episode tur nusantara, belum lagi hitungan mengikuti tur di luar negeri.

Anak-anak muda yang memang mendapatkan tempat langsung menjadi lahan yang enak untuk meraup dana segar dari mereka, selain dari episode tur nusantara, masih ada tentang menjadi bintang iklan, tamu dalam sebuah program televisi, bahkan apapun mengenai U-19 begitu laris manis di pasar, baik itu jersey dengan nama mereka, atau membuatkan sebuah buku atau film dari kisah perjalanan singkat mereka.

Tidak ada yang salah dari buah yang dipaksakan untuk matang.

Tidak ada yang salah dengan para penjual buah yang menjual buah yang dipaksakan untung matang sebelum waktunya.

Apakah kita yang salah karena terlalu berharap dengan buah yang belum matang ini? atau, kita yang malah memaksakan tukang buah itu dengan segera memetik buah yang terlihat sudah matang padahal belum matang sepenuhnya?

Ngomong-ngomong, kenapa malah jadi buah padahal sebelumnya bahas tentang garuda-garuda muda yang kesulitan untuk terbang karena sayapnya yang patah sebelum sayapnya benar-benar kuat untuk dapat terbang tinggi.

Kita dapat menyalahkan bagaimana jeleknya penampilan mereka dengan membawa pulang angka 0 kembali ke tanah air, namun apakah kita berani menyalahkan bagaimana sibuknya jadwal mereka dalam rangkaian persiapan? Atau, kita menyalahkan diri kita sendiri yang begitu berharap kepada mereka?

Jalan mereka masih lah panjang dan umur mereka masih sangat muda. Sebuah kegagalan yang terjadi biarkanlah menjadi sebuah pembelajaran bagi mereka untuk kemudian harinya. Bukankah pengalaman itu akan mengajarkan kita lebih banyak hal daripada belajar di ruang kelas dengan bermacam-macam buku yang membuat kita kantuk?

Pertanyaannya kemudian, apakah kita masih dapat terus berharap kepada mereka yang telah jatuh didalam jurang kegagalan? Bukankah dalam sepakbola yang sering menjadi tolak ukur dalam suatu prestasi itu saat membela timnas senior? Dan, mereka masih membela timnas U-19 bukan? Kenapa tidak kita tetap berharap kepada mereka untuk dikemudian hari dapat lebih baik lagi.

Setidaknya, bila seluruh aspek yang terlibat ikut berbenah dengan kegagalan yang terjadi. Pembenahan dalam kompetisi, pembenahan dalam pembinaan usia muda, pembenahan dalam klub-klub, dan terutama lagi pembenahan itu membutuhkan sebuah proses yang terkadang membutuhkan waktu lama agar benar-benar matang sepenuhnya.

Sebuah waktu yang dapat menjawabnya semua. Sebagaimana besar kemauan kita untuk berbenah, berapa besar niat kita untuk belajar dari pengalaman, berapa besar konsitensi kita dalam mengadapi perubahan yang terjadi.

Garuda yang masih muda itu sedang belajar untuk dapat terbang, terkadang ia dapat jatuh dari ketinggian sebelum benar-benar dapat terbang tinggi. Terkadang, kita butuh rasa sakit kegagalan untuk tahu bagaimana rasanya berjuang untuk mencapai keberhasilan dan sebuah keberhasilan ketika melihat bendera merah putih berkibar tinggi dan medali emas dikalungkan kepada garuda-garuda yang berjuang di atas lapangan hijau.

Beruntungnya, kesedihan ini tidak berlarut terlalu lama karena semua orang sibuk untuk membahas mengenai pernikahan artis yang mewah dan juga tentang pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih. Kini, biarkanlah para pemuda itu melepaskan kejengahannya dan berlatih lebih gigih lagi agar dapat kembali kembali membela di tingkat senior.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s