bola

Pildun dan Pilpres

presiden-pegang-trofi-piala-dunia

Dua hal yang paling dinantikan karena berlangsung setiap empat dan lima tahun. Dua hal yang sanggup membuat setiap perhatian tertuju kepada dua acara besar tersebut. Dan, tahun ini merupakan tahun yang sangat spesial karena dua acara ini berlangsung secara beriringan dan beririsan.

Sejak kehadiran segala macam pemilu membuat dunia maya menjadi tempat yang tidak terlalu menyenangkan lagi, terutama setelah pemilu legislatif. Saling serang antar pendukung dari kubu calon presiden, melemparkan segala fitnah tanpa sebuah dasar yang jelas secara terus menerus hingga dikatakan menjadi sebuah kebenaran.

Dunia maya yang awalnya tenang tiba-tiba berubah sesaat ketika negara api menyerang. Hampir setiap hari berita isinya mengenai persoalan copras-capres, tentang fitnah A lah, atau tentang masa lalu si B lah, dan berbagai hal berita lainnya yang mampu untuk mengiring opini orang yang mengakses berita tersebut.

Bahkan, tidak jarang orang sampai ribut karena perbedaan pendapat mereka mengenai salah satu calon. Ada pula yang mendukung dengan sebuah kajian yang rasional. Ada pula orang-orang yang bermacam-macam itu. hingga akhirnya, sebuah titik waktu dimana Avatar melawan Raja Api setidaknya persoalan mengenai capres sedikit berkurang karena ada pembahasan yang lebih menarik yaitu; Piala Dunia.

Piala Dunia 2014, Kembali Ke Rumah!

bpuynl7cqai31xs

Iya, mungkin itulah yang dapat digambarkan untuk piala dunia kali ini. brazil yang identik dengan sepakbolanya yang telah menjadi sebagian budaya dan agama dari mereka. Sepakbola menjadi tempat untuk bergembira layaknya mereka sedang melakukan festival-festival dengan macam-macam warna yang membuat kesan bahagia.

Namun, sayangnya kepulangannya kali ini tidak mengalami perjalanan yang mulus dan sesuai dengan bayangan sebelumnya. mungkin di bayangan sebelumnya ketika FIFA mengumumkan penyelenggara piala dunia 2014 ialah Brazil akan ada gegap gempita dari seluruh rakyat Brazil dan mendukung setiap pembangunan yang dilakukan untuk piala dunia ini, tapi nyatanya penolakan-penolakan terus terjadi.

Ribuan orang sering melakukan demonstrasi penolakan piala dunia yang anggarannya sangat tinggi sedangkan kebutuhan rakyat Brazil akan sekolah dan pendidikan belum tercukupi, belum lagi isu tentang keamanan yang menjadi ketakutan lainnya. Renovasi dan pembangunan yang tidak sesuai dengan jadwal membuat FIFA geram dengan pihak penyelenggara.

Setahun sebelumnya, seperti biasa pula ajang piala konferedasi diadakan sebagai ajang pemanasan dan persiapan untuk piala dunia. Masalah-masalah sebelumnya menjadi PR dan demonstrasi masih terus berlanjut menolak piala dunia. Tetapi dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi antara FIFA dan penyelanggara percaya bila piala dunia akan tetap berlangsung di Brazil dengan ditambah timnas Brazil saat itu juara di ajang konferedasi yang setidaknya menjadi satu pijakan harapan bila Brazil dapat berpesta di rumahnya sendiri setahun kemudian.

Mereka saling bergantian mengisi wajah dalam linimasa saya, seperti terjadwal. Teratur. Biasanya anak bola akan muncul ke permukaan saat jam malam sudah mulai diberlakukan hingga sang mentari muncul, lalu menjelang siang obrolan kembali ke topik capres dengan perdebatan yang sengit.

Layar kaca televisi pun demikian, memiliki porsi tersendiri untuk dua kejadian yang rasanya menjadi penting untuk dinikmati. Pilpres dan Pildun. Dua-duanya sama memiliki magnet tersendiri bagi orang yang menantikannya dan mereka pun akan tetap berjalan meski banyak kendala dalam saat pelaksanaannya.

Drama tidak hanya dimonopoli oleh sinetron-sinetron televisi saja, tetapi di dalam piala dunia dan pemilihan presiden pun terjadi drama-drama yang membawakan cerita tersendiri dalam pelaksaannya. Ada yang merasa tersakiti dan ada yang dengan tampang pogah mengatakan kemenangan ada di tangan kami. Dua-duanya pun sama-sama mengklaim untuk kebaikan bangsa dan mengatasnamakan rakyat.

Tidak ada yang menyangka bila juara bertahan babak belur di pertandingan pertama saat bertemu dengan lawannya di final piala dunia empat tahun yang lalu di Afrika Selatan. Tidak hanya babak belur di pertandingan pertama, tetapi sang juara pertama harus merelakan bila mereka tidak lolos dari fase grup. Apakah ini mengenai beban sebagai juara bertahan atau konsep permainan yang mereka mainkan sudah basi dan sepakbola memiliki konsep yang terbarukan lagi?

Atau bagaimana ironinya nasib Inggris yang selalu menjadi tim yang biasa saja tetap tidak lolos dari fase grup sama seperti Italia yang dikatakan akan dapat melangkah lebih jauh lagi –ya setidaknya sampai ke semifinal lah.  Bagaimana drama yang terjadi saat Suarez yang kelaparan di tengah pertandingan dengan kembali beraksi dengan gigitan mautnya. Atau, nasib negara-negara yang Asia yang melempem di Brazil.

Seru di awal dan membosankan setelah fase grup. Pertandingan menjadi monoton dengan mementingkan hasil akhir agar dapat lolos menjadi salah satu faktor alasannya. Tidak banyak gol yang terjadi di fase-fase selanjutnya. Namun, yang menariknya ialah ketika negara-negara yang dipandang sebelah mata malah tampil memukau. Sisi positif selanjutnya ialah, harga pemain setelah gelaran piala dunia ialah meningkat dan banyak pemain yang tampil baik menjadi buruan klub-klub ternama di Eropa.

lainfo.es-5126-brasil-protestas-contra-el-mundial-2014-contrapapel

Kehebatan selanjutnya dari FIFA ialah sedikit tuli dengan teriakan-teriakan minor dalam penentangan pesta piala dunia, namun semuanya sudah menjadi bubur dan tidak bisa menjadi nasi kembali. Pesta megah itu tetap terlaksana, dan seandainya pemerintah Brazil lebih peka terhadap rakyatnya sendiri mereka tidak akan menanggung malu yang cukup perih, kalah di semifinal oleh Jerman dengan angka yang mencolok, kalah lagi di perebutan juara ketiga dengan Belanda, melihat dua rivalnya bermain di partai puncak yang diselenggarakan di ‘gereja’ sepakbola.

9 Juli. Laga semifinal pertama di Piala Dunia 2014 digelar dengan Jerman melawan Brazil yang tampil di laga tersebut. Setelah disuguhkan tayangan sepakbola, masyarakat Indonesia disuguhi drama selanjutnya dalam negerinya. Pilpres! Setelah kebosanan demi kebosanan yang disuguhi akhirnya tanda-tanda akan selesainya perpecahan di antara masyarakat muncul dalam suatu tanda. Jari-jari biru atau ungu muncul di berbagai media sosial sebagai bukti mereka berpartisipasi.

Partai final piala dunia kalah seru dibandingkan dengan final pilpres. Harus menunggu sampai babak kedua baru ada sebiji gol tapi tunggu itu babak kedua di babak tambahan. Namun, setelah wasit meniup peluit panjangnya. Semua bersalam-salaman, tidak ada yang mengundurkan diri dan mengatakan wasit curang.

Memang yang kalah, duduk lesu di lapangan dengan air mata yang berceceran di wajah mereka. Memang yang menang, berpesta merayakan keberhasilan mereka sebagai juara dalam piala dunia kali ini.

Suatu hal yang dapat dipelajari dari olahraga ini. memang sebaiknya belajar untuk bertidak sportif dalam sebuah pertandingan, namun kalau mau belajar tentang sportivitas memang di negeri ini pula harus belajar. Jangan lagi menjadikan lapangan sebagai arena semua olahraga dicampur jadi satu dalam satu waktu, ada tinjunya atau silat atau lain-lainnya.

20140518_152052_kampanye-pilpres-damai

Pilpres kali ini menjadi sebuah drama yang cukup membosankan. Ketika penghitungan suara di KPU tiba-tiba mengundurkan diri sebelum ditetapkan kalah. Bukankah kalau mundur dalam suatu pertandingan akan dikatakan kalah dan lawannya akan dianggap menang WO? Bila, ada yang memberikan alasan dengan mengatasnamakan kebenaran, bukankah kebohongan yang terus menerus dilakukan akan disangka kebenaran? Lalu apakah kebenaran itu?

Melemparkan segala alasan dan mengkambinghitamkan KPU yang berat terhadap salah satu calon presiden. Menggugat keputusan yang tidak pernah mereka terima dan mundur dari pertandingan sebelum pertandingan itu benar-benar usai. Sekali lagi mengatasnamakan untuk kebenaran dan keadilan sekaligus rakyat pun dibawa.

Bukankah bila mencintai sesuatu pun mampu merelakan dirinya bahagia dengan orang lain bila dia tidak diinginkan, bukannya dipenjarakan dengan keinginan pribadi atau kelompok tertentu. Apakah ini tentang cinta atau hanya ego yang mengerdilkan cinta itu tersebut?

Tidak. Andai mereka mengetahui bagaimana indahnya sepakbola yang mengajarkan arti kekalahan dan kemenangan. Menerima kekalahan dan merayakan kemenangan. Bukan hanya tentang kemenangan dan takut menerima kekalahan lalu menyalahkan faktor lainnya, hingga meminta pertandingan ulang dilaksanakan.

Tapi, inilah sisi hidup yang menarik. Kadang kita merasa sudah mencintai dengan sepenuhnya dan yakin mendapatkan dukungan, tetapi kala cinta kita tidak bersambut. Mencoba lah iklas tanpa mencoba menyalahkan hal-hal lain yang aneh-aneh. Memang, terkadang dalam setiap kekalahan kita membutuhkan satu hewan yang dipersembahkan, yaitu kambing hitam.

Piala dunia sudah usai. Liga-liga Eropa akan segera kembali muncul. Berita mulai dihiasi mengenai bursa transfer antar pemain dan semuanya kembali menjadi normal tanpa ribut-ribut. Pemilihan Presiden sudah usai. Baiknya kembali kehidupan normal seperti biasa, semuanya pun demi Indonesia yang lebih baik lagi bukan?

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s