bola

Perempuan Dengan Sepakbola.

timthumb

Sepakbola merupakan olahraga yang cukup populer dan disukai oleh banyak kalangan, entah itu kaum kelas atas atau bawah, baik dia pria atau perempuan, muda atau tua. Semua menyukai olahraga ini bukan?

Lalu, sebuah keresahan mengusik pemikiranku. Perlahan demi perlahan ia masuk ke dalam benak dan membebaniku seakan ia berteriak-teriak untuk aku memikirkan hal ini. Bukan kah sepakbola itu untuk semua? Sepakbola juga yang dapat menjadikan sebuah alasan untuk sebuah rasa persatuan dan nasionalisme dalam suatu negara? Tetapi, terkadang mengapa perempuan masih disisihkan dari sepakbola itu sendiri? Bukankah sepakbola itu untuk semua?

Kini, aku mulai penasaran dengan semua yang membebaniku. Aku mulai melihat tentang realitas sosial yang rasanya menjadi suatu hal yang luar biasa ketika melihat seorang perempuan suka dengan sepakbola, baik itu memainkan atau menyaksikan pertandingan sepakbola. Bahkan, mereka yang mengikuti benar tentang sepakbola itu sendiri sampai ia bisa menulis atau membahas sepakbola dengan segala keindahan yang ia miliki.

Rasanya, kita ditarik dengan ucapan sepakbola itu untuk laki! Apakah benar ucapan itu? mengapa harus membawa gender ke dalam sebuah olahraga, lalu apakah seorang pria yang tidak terlalu menyukai sepakbola akan dianggap tidak laki, atau perempuan yang menyukai sepakbola akan dibilang laki? Aku pikir, itu aneh.

Bukankah, kita hidup di masa yang mengangungkan penyetaraan gender dan masalah diskriminasi persoalan gender ini mulai banyak di tentang? Atau, kita yang masih terjebak dalam pengangungan satu gender, lebih tepatnya gender pria?

Kita akan melihat suatu masalah ini dengan sebelah mata dan sepele. Bahkan, kita terkadang menganggap ini bukan sebagai suatu masalah berarti, karena memang kita masih memegang kuat sepakbola itu laki.

Bahkan masalah ini pun masih suka terbawa ke tingkat federasi yang menaungi sepakbola nasional. Masalah ini pasti tidak akan mendapatkan perhatian dari pemegang kekuasaan di federasi tersebut, karena masalah mereka terlalu banyak dan inti dari tujuan mereka pun bukan prestasi, melainkan sesuatu yang aku pun tidak terlalu mengerti apa yang menjadi tujuan mereka.

Silahkan lihat bagaimana prestasi dari federasi, lebih banyak baik atau buruk?

***

Ketika aku masih sekolah, aku masih ingat tentang bagimana perjuangan para perempuan yang ingin bermain sepakbola atau futsal yang ingin diadakannya ekskul futsal untuk putri. Perjuangan mereka berakhir dengan manis, namun pada kenyataannya agak perih, karena jam latihan dan pola latihan mereka yang terkesan biasa saja dibandingkan dengan pria. Dan, saat perlombaan pun selalu didahului peserta pria dibandingkan perempuan. Baik, mungkin karena jumlah mereka yang sedikit.

Lalu, ketika aku mulai mengikuti sebuah komunitas supporter sebuah klub sepakbola di kampusku. Untuk perempuan bisa dihitung dengan jari. Terkadang, kita pun lebih menyukai mengatakan bila perempuan itu fans karbitan yang menyukai suatu klub sepakbola yang sedang naik atau bagus saja. Padahal, banyak yang kutemui tidak seperti anggapan banyak orang. Bahkan, mereka memiliki loyalitas yang kuat, sama pengetahuan akan sejarah yang lebih hebat dibandingkan dengan kaum adam sendiri.

Apakah memang benar sepakbola itu untuk semua? Kalau kita mulai membuat garis pembatas dengan streotype yang kita berikan kepada kaum perempuan di dunia sepakbola. Kita mengatakan mereka karbitan, mereka tidak mampu untuk memainkan si kulit bundar, mereka cuma suka sepakbola karena pemainnya ganteng, dan lain banyak hal yang kita berikan kepada mereka kaum hawa.

Memang banyak yang seperti itu, tetapi ketika aku terjun sendiri di lapangan aku menemukan beberapa hal yang menarik dari perempuan itu sendiri pada kecintaannya kepada olahraga ini.

Aku membaca tulisan dari seorang penulis perempuan yang begitu luar biasa dan tulisannya selalu membuatku menantikan tiap minggu apa yang akan ia tulis. Ia menulis sepakbola dengan cara pandangnya. Cara yang membuat hatiku dapat tergugah hanyut dalam gelombang perasaan yang penulis berikan.

Belum lagi, ketika aku melihat perempuan yang militan saat mendukung klub dukungannya di dalam stadion. Mereka, tidak jarang untuk berdiri memanjat pagar untuk memberikan dukungannya. Bergabung bersama dengan gerombolan pria lainnya untuk membakar semangat teman-teman lainnya saat mendukung. Aku hanya terdiam saat melihatnya, perjuangan yang ia lakukan besar. Dari berangkat yang mungkin tidak mendapatkan restu dari orangtuanya karena menonton sepakbola di stadion itu bahaya, belum lagi tentang kejadian-kejadian yang tidak diduga, tetapi mereka toh tetap datang untuk mendukung.

Oh, iya, sama tentang pengalamanku di komunitas yang melihat para perempuan yang sering untuk memberikan dukungan. Tidak jarang mereka berteriak untuk bernyanyi, rela pulang larut malam, atau terkadang ada yang ikut nonton pertandingan meski tengah malam.

Apakah benar sepakbola itu untuk semua?

***

Pertanyaan itu mengusikku kembali. Membawakan pertanyaan itu ke dalam kisah nyata di kehidupan nyata ini? apakah memang benar sepakbola itu untuk semua di negeri ini?

Seberapa sering kita mendengar tentang sepakbola perempuan di negeri ini? seberapa banyak nama pemain sepakbola perempuan yang kita ketahui, jujur aku pun tidak terlalu banyak mengetahui dan mengenalnya.

Apakah disini sepakbola itu memang hanya untuk para pria? Terkadang, aku pun sering heran kenapa banyak pria yang menyukai olahraga ini? bukankah yang dilihat itu pun pria yang sedang berebut bola dan mencetak gol, lalu peluh keringat membasahi tubuh pemain sepakbola yang membuat darah mengalir lebih cepat ketika melihat wajah pemain tersebut bahagia ketika mencetak gol dan memberikan kemenangan?

Atau, apakah memang perempuan lebih baik mengurusi persoalan dapur daripada ikutan menonton pertandingan sepakbola?

Pertanyaan-pertanyaan itu menarikku lebih dalam lagi, kali ini berada di tingkatan apakah federasi benar-benar serius dalam persoalan sepakbola perempuan, atau setidaknya pemerintah untuk mengurusinya?

Dunia sudah membuat sebuah kompetisi piala dunia perempuan, lalu di beberapa negara pun sudah memulai dengan kompetisi sepakbola perempuannya. Beberapa bulan lalu, perempuan keturunan Indonesia menjadi berita karena bergabung dengan klub sepakbola perempuan asal Inggris –Arsenal- dari Ajax. Yang menarik perhatian selain dia mengucapkan terima kasih karena dukungan dari fans Arsenal yang berada di Indonesia dengan mengunakan kalimat bahasa, tetapi yang menariknya bila di Eropa sepakbola perempuan memang terus berkembang.

Untuk kompetisi piala dunia sepakbola perempuan, bagaimana kuatnya Amerika Serikat dalam menguasai kompetisi ini yang menjadi saingan utama dari Jerman. Bila dilihat dari sepakbola pria, memang sangat sulit untuk memecahkan kedigdayaan negara yang memiliki sejarah dan tradisi panjang dalam persepakbolaan, tetapi di sepakbola perempuan semua bisa terjadi. Bagaimana Asia boleh berbangga hati dengan Jepang yang pernah menjadi juara piala dunia perempuan.

Sedangkan di Indonesia? Kita terus menyeret dan membiarkannya tergantung begitu saja.

Memaksakan pemain futsal perempuan untuk bermain di lapangan besar dengan persiapan yang sangat minim, hasilnya sangat mudah dapat ditebak. Indonesia menjadi lawan empuk lawan-lawannya.

Setelah kejadian itu? rasanya, tidak ada pembenahan yang serius bagi sepakbola perempuan di negeri ini. padahal, aku pikir bila masalah ini mendapatkan perhatian dari pemerintah atau federasi. Kita bisa mengejar ketertinggalan kita di sepakbola perempuan, untuk sepakbola pria memang masih butuh waktu yang sangat panjang untuk kembali berprestasi lebih baik lagi.

***

Apakah benar sepakbola itu untuk semua?

Rasanya, memang harus demikian. Tidak ada lagi tentang sekat yang membatasi perempuan dengan sepakbola, biarkan perempuan mencintai sepakbola seperti para pria yang begitu mengandrungi si kulit bundar ini.

Memberikan perhatian kepada perkembangan sepakbola perempuan itu sendiri, bukannya malah membiarkan dia tergantung seakan hidup segan mati pun tak mau. Sepakbola dan futsal perempuan itu sebenarnya ada dan banyak perempuan yang menyukai untuk bermain sepakbola atau futsal, tetapi rasanya mereka kekurangan tempat untuk menyalurkan talenta yang mereka miliki.

Kompetisi yang diadakan terbatas, informasinya pun tidak jelas bagaimana. Bukankah ini masalah bersama? Memberikan tempat bagi perempuan untuk sama-sama mencintai olahraga yang paling digemari ini.

Bukankah sepakbola memang untuk semua tanpa membeda-bedakan gender ke dalamnya, bukan kah sepakbola pun menjadi alat pemersatu yang kuat. Dan, sepakbola adalah bahasa universal yang membuat kita bisa saling bergandengan tangan tanpa mempedulikan latar belakang, gender, ras, atau warna kulit?

Sekali lagi, apakah sepakbola itu untuk semua?

Kuharap demikian.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s