bola

Jalan Lain Ke Tulehu; Beta Maluku!

tulehu_zps279ba463

            Rangkaian kisah yang membuatku semakin tenggelam memaknai sebuah arti dari sepakbola. Rangkaian kisah yang berbeda dari rangkaian lainnya mengenai sepakbola yang selalu ditampilkan oleh berbagai sineas maupun penulis. Rangkaian kisah yang menampilkan mengenai keindahan sebuah tempat di Maluku. Rangkaian kisah yang menghadirkan betapa dahsyatnya konflik yang pernah tercatat di lembar sejarah sebagai konflik yang memiliki skala paling besar dan waktu yang paling lama.

            Aku tidak menulis mengenai bagaimana orang-orang lain yang mereview mengenai film atau novel tersebut, yang aku ingin ceritakan hanyalah mengenai sisi lain dari sebuah negeri di Maluku yang begitu indah dan mencatatkan sebuah kekaguman mengenai sepakbola merupakan menjadi agama atau bagian dari kebudayaan masyarakat daerah Salahutu tersebut. Iya, nama negeri itu ialah Tulehu!

            Silahkan kalian mencari siapa saja pemain asal Tulehu yang menjadi langganan Timnas Sepakbola Indonesia, atau paling mudahnya untuk mengetahuinya, apakah kalian mengenal nama-nama seperti Rizky Pellu, Alfin Tuasalamony, Abdul Rahman Lestaluhu, atau Ramdani Lestaluhu? Nama-nama yang saya sebutkan merupakan anak-anak yang berasal dari Tulehu.

            Tulehu. Hal yang luar biasa ketika kita membicarakan kampung ini ialah sepakbola merupakan menjadi bagian dari kehidupan mereka, hampir seluruh anak laki-laki Tulehu memiliki satu mimpi yang sama. Menjadi pemain sepakbola profesional. Hal tersebut seperti sudah masuk ke dalam darah daging setiap anak-anak Tulehu.

            Jangan aneh dengan bakat-bakat yang luar biasa berasal dari Tulehu. Bila kita mengenal tradisi menginjak tanah pada bayi yang berumur berapa bulan, disana pun memiliki tradisi yang sama cuman yang menjadi keunikkannya ialah mereka bukan hanya menginjak tanah tetapi menendang bola! Sebuah tradisi pun yang melahirkan anak-anak Tulehu bermain di gang-gang kecil, pantai, atau pasar sekalipun untuk bermain sepakbola. Bila kalian masih mengawang, silahkan berimajanasi mengenai sepakbola di Brazil.

            Mereka belajar bagaimana cara mengumpan dengan satu dua sentuhan dengan bermain kucing-kucingan, lalu ketika masuk usia dua belas tahun mereka baru mengenakan sepatu sepakbolanya untuk bermain di lapangan.

***

            Konflik di Maluku meletus karena saling terjadi provokasi antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya. Konflik yang membuat Maluku terkekang, perbedaan membuat mereka saling curiga satu dengan yang lain. Konflik yang diwarnai dengan agama didalamnya akan menghasilkan sebuah konflik yang besar dan lama. Bila kita mengenal Perang Salib di Timur Tengah, di Maluku pun hadir sebuah konflik berdarah karena agama, Kristen dan Islam. Ada rasa khawatir bila orang Kristen masuk ke daerah Islam, begitupun sebaliknya. Rasa khawatir itu yang membuat mereka tidak segan untuk menjual imannya hanya untuk dapat hidup meskipun pada akhirnya mereka akan tewas juga.

            Tidak sampai hanya di kampung-kampung, tetapi kapal pun terjadi seperti demikian. Ada kapal yang dikhususkan untuk Kristen dan Islam, bila salah naik kapal alamat akan mengakhir kehidupan di atas laut. Mayatnya akan dilarungkan begitu saja ke laut.

            Konflik tersebut membuat goresan-goresan luka, membuat anak-anak harus melihat bagaimana kejadian yang paling mengerikan hingga mereka merekam dalam memori ingatan mereka. Anak-anak yang seharusnya tidak diperbolehkan untuk ikut dalam perang, malah diperbolehkan, siapapun yang tidak ikut dalam perang tersebut akan dibilang pengecut atau dipertanyakan kadar keimanannya.

            Karena konflik yang meletus di Maluku hingga ke Tulehu, membuat anak-anak yang sebenarnya dapat menikmati bermain sepakbola dengan bebas dan gembira harus merelakan kebahagiaannya dengan menonton keributan-keributan yang terjadi, sepakbola mereka tinggalkan untuk menonton bahkan ikut berperang.

“Konflik ini terlampau menyita waktu, tenaga, emosi, harta, dan nyawa. Heroisme tak punya tempat lagi disini, kecuali jika ingin berakhir dengan kesia-siaan.” – Dudi.

***

            Apakah perbedaan itu? apakah kita harus menjadi satu bukannya bersatu? Aku benar-benar tidak paham dengan konsep perbedaan. Kita dipaksa untuk menghargai yang namanya perbedaan, tetapi di sisi lain kita malah memaksa orang lain atau kelompok minoritas untuk mengikuti apa yang menjadi kemauan kelompok mayoritas.

            Bukankah kita diciptakan dalam sebuah perbedaan? Bukankah semua agama mengajarkan tentang kebaikkan dan kasih? Lalu, mengapa terjadi konflik atau kekerasan dengan mengatasnamakan agama? Lalu, apa gunanya agama itu sekarang? Hanya sebuah pemanis atau penutup yang indah diskriminasi?

            Pada film Cahaya Dari Timur digambarkan Sani seorang tukang ojek yang pada masa lalunya pernah gagal dalam seleksi masuk ke Timnas, padahal ia memiliki bakat yang cemerlang. Sani merasa pedih ketika ia pergi ke Ambon untuk membeli terigu dan saat ia mau pulang terjebak dalam konflik yang sedang meletus. Seorang anak kecil yang saat konflik berada di sampingnya dikabarkan meninggal akibat konflik yang meletus tersebut.

            Berawal dari sanalah, Sani berpikir bagaimana cara menyelamatkan anak-anak dari konflik. Menyelamatkan mereka untuk tidak ikut berperang atau menonton saat keributan itu terjadi di sekitar mereka.

            Sepakbola. Olahraga yang sudah ia jauh tinggalkan akhirnya kembali ia sentuh dan melahirkan harapan untuk menyelamatkan anak-anak dari sebuah konflik yang terkadang terjadi di sekitar Tulehu.

Sani diamanatkan menjadi pelatih tim Maluku untuk kompetisi di Jakarta, sebagian pemainnya berasal dari Tulehu yang memiliki latar belakang agama Islam dan sebagian lainnya dari Passo yang beragama Kristen. Perbedaan di antara mereka sebelumnya membuat keretakkan di tim Maluku, namun keberhasilan Sani membangkitan semangat mereka dengan menanyakan kepada mereka satu-satu, Ose Siapa? Beta Maluku! Seng peduli ose Salam atau Sarani, ose Tulehu atau Passo! Beta Maluku!

Sebagai catatan pemain asal Tulehu yang menghiasi sepakbola nasional ialah; Rifai Lestaluhu, Aji Lestaluhu, Chairil Anwar Ohorella, Rahel Tuasalomony, dan masih banyak lagi. Sepertinya, Tulehu ditakdirkan untuk menjadi negeri sepakbola dan setiap anak-anaknya ditakdirkan memiliki bakat sepakbola yang mumpuni.

            Hingga pada akhirnya, sepakbola lah yang menjadi buktinya nyata tentang bagaimana mempersatukan kelompok-kelompok yang sedang bertikai. Atas nama sepakbola, sekat-sekat perbedaan itu diruntuhkan. Atas nama sepakbola, sekat yang membuat kelompok-kelompok curiga mengenai agama dari kelompok tersebut hancur seketika. Atas nama sepakbola, mereka dapat tertawa, bahagia, dan merayakan kemenangan bersama.

            Sani dan sepakbolalah yang menginisiasikan perdamaian dalam konflik yang memanas. Sepakbola dibawa kembali ke tengah-tengah tempat yang sedang berkonflik. Sepakbola yang menjadi titik balik dari semua kenangan-kenangan yang membawa luka dari masa silam. Sepakbola yang menjadi harapan untuk memiliki masa depan yang lebih baik lagi, menghilangkan segala kenangan tentang konflik yang kepedihan, kesedihan, luka, dan trauma akibat kehilangan anggota keluarga yang meninggal karena konflik.

            Sepakbola menjadi alat untuk perdamaian bukan hanya terjadi satu atau dua kali, namun terjadi di beberapa belahan dunia lainnya. Saat perang antar agama terjadi di Bosnia, sebuah yayasan terbentuk untuk menyelamatkan anak-anak dari perang untuk dapat bermain sepakbola. Iran saat negaranya sedang perang, mereka juara Piala Asia dan membawakan pesan perdamaian bagi negaranya. Saat Mesir bergejolak, sepakbola memberikan warna dalam demonstrasi. Saat itu seluruh Ultras turun membantu dan mengajarkan para demonstran bagaimana cara berhadapan dengan polisi.

            Bukankah sepakbola juga yang membuat Stadion Utama Gelora Bung Karno begitu mewah dan siapapun yang masuk ke dalamnya saat Timnas Indonesia sedang bermain akan merasakan atmosfer yang begitu panas dan membuat bulu kuduk berdiri? Semua warna latar belakang bercampur hanya menjadi satu. Merah! Merahkan SUGBK! Sepakbola seperti morfin yang membuat kita lupa akan rasa sakit dari sebuah luka dan olahraga inilah yang menjadi pembangkit rasa nasionalisme.         

            Sepakbola lahir bukan untuk sekedar olahraga biasa yang dimainkan di lapangan dengan dua kesebelasan, tetapi sepakbola dapat membawakan pesan-pesan perdamaian. Sepakbola merupakan bahasa universal yang dimengerti oleh setiap orang. Sepakbola merupakan bagian yang terindah yang tercipta di dunia ini. bila mengutip dari film Hari Ini Pasti Menang; Sepakbola lebih penting dari apapun juga, lebih penting dari urusan politik atau agama sekalipun. Sepakbola menghadirkan sebuah mimpi dan harapan bagi anak-anak.

 

            

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s