bola

Ronald Bedankt!!

Image

Pria tambun yang selalu terlihat ramah dengan menampilkan senyumannya sudah tidak menghiasi di pinggir lapangan untuk meneriaki para pemainnya, bukannya dia dipecat tetapi ini adalah akhir dari perjalanannya dalam membangunkan si monster dalam tidurnya yang panjang. Akhir karena ia memilih untuk tidak memperpanjang masa baktinya di Rotterdam.

Tiga tahun.

Tiga tahun bukanlah waktu yang pendek dan dalam rentang waktu tersebut kehidupan di Rotterdam kembali berwarna dengan kehadirannya. Tahun pertama di kedatangannya, ia membawa klub yang berumah di De Kuip ini menempel ketat seteru abadinya hingga dua pertandingan terakhir. Saat pertandingan menjamu klub asal ibukota tersebut di rumah, siapa sangka Feyenoord menghancurkan rivalnya dengan menghadirkan kemenangan.

Kemenangan itu disambut luar biasa. Perayaan setelah pertandingan usai dilakukan bersama dengan para pemain, kapten saat itu yang sudah pergi ke Inggris Ron Vlaar memimpin paduan suara bersama para Het Legioen dalam menyanyikan lagu kemenangan. SUPER FEYENOORD!!

Di musim pertama itu juga Feyenoord mengakhiri musim dengan manis berada di posisi kedua yang menandakan. Oh, wait!! Siapa yang kembali ke Eropa? Siapa yang kembali! Iya, FEYENOORD akhirnya kembali berlaga di kompetisi eropa.

Setelah bermusim-musim menempuh posisi papan tengah dan bahkan pernah terperosok hingga di posisi sepuluh klasmen akhir, akhirnya Koeman menghadirkan sebuah mimpi baru yang sudah lama tidak pernah dicecapi untuk kembali berlaga di Eropa.

Skuadnya bukanlah kumpulan para pemain bintang dan keren seperti klub ibukota, tetapi kumpulan para pemain muda yang berasal dari akademi.  Pemain muda yang berasal dari akademi dengan campuran pemain tua menjadi suatu racikan yang pas sebagai komposisi dalam resep taktik miliknya.

Di musim pertama ini pula, peminjaman Guidetti menjadi begitu luar biasa. Pemain yang dikenal bengal ini bisa ditaklukan oleh Koeman untuk menjadi pemain yang ditakuti lawan dan kesayangan oleh para supporter. Bahkan, ketika musim telah berakhir juga sebuah perayaan kecil dilakukan dalam perpisahan pemain ini yang akan kembali ke klub asalnya.

Ia, Guidetti begtu dekat dengan mereka dan mereka pun berharap suatu saat nanti dia akan kembali pulang ke Rotterdam.

Setelah kepergian pemain bengal tersebut. Koeman menghadirkan macam pemain seperti Pelle yang daya gedornya tidak kalah dengan Guidetti. Ah, saya sempat memimpikan bagaimana jadinya bila Pelle dan Guidetti diduetkan di lini depan Feyenoord, apakah akan semakin sangar? Lalu, Lex Immers pemain yang memiliki pengalaman meski tidak terlalu terkenal dan sering gagal dalam pinalti sehingga ada kalimat yang sering dibuat untuk dirinya, Lex Immers : Immer Miss? Yang berarti selalu gagal. Belum lagi ia kembali mengorbitkan para pemain muda macam Boetius, Vilhena, Manu, Te Vrede, atau nama-nama yang pasti jarang anda dengar dan tidak terlalu terkenal di telinga.

Penampilannya di musim kedua dengan kembali berlaga di eropa, tidak serta merta selalu datang dengan keberhasilan tinggi untuk terus melangkah ke babak grup. Tidak sampai sana, hanya dalam penyisihan pertama pun sudah takluk dan untungnya masih dapat berlaga di eropa di liga eropa. Sayang seribu sayang, masuk ke liga eropa pun tidak membawanya untuk terus melangkah lebih jauh, seperti di babak penyisihan UCL yang langsung tersisih begitupun di liga eropa yang langsung tersisih begitu cepat.

Mimpi mengenai musim pertamanya berhasil masuk ke posisi dua, membawa suatu mimpi satu langkah lebih besar lagi dari sebelumnya, menjadi juara dan mematahkan dominasi klub ibukota yang tidak asyik untuk disebutkan. Alih-alih untuk bertempur dengan juara bertahan malah gagal maning, posisi dua pun terlepas dari genggaman, klub asal kota pelabuhan ini tergelincir di akhir musim.

Memasuki periode ketiga, atas kesibukan saya di kampus saya mulai kurang untuk mengikuti perkembangan klub ini. apa yang sedang terjadi dan tentang pertandingannya, namun dari awal musim sampai pertengahan pembahasan yang sering muncul hanyalah mengenai tentang pembangunan stadion baru atau renovasi stadion, mengenai masa depan Koeman belum banyak kabar yang berkembang hingga pertengahan musim sebuah kabar yang mengejutkan.

Koeman memulai pembahasan mengenai keinginannya untuk melatih timnas Belanda dan. Dia tidak memperpanjang kontraknya sebagai pelatih kepala di Feyenoord yang berarti akhir musim ini dia akan meninggalkan segala kenangannya di De Kuip.

Mungkin, respon yang tercipta ialah keterkejutan mengenai kepergiannya pria yang bisa dikatakan tambun ini. dan, kemana dia akan melanjutkan karirnya pun masih melahirkan tanda tanya. Apakah Swansea?

Salah satu pertandingan yang aku saksikan di musim ini adalah, pertarungan antar kelas. Kelas pekerja dan para pemilik modal. Pertarungan yang lahir sudah dari masa lalu, ada gengsi dan pertaruhan nama kota disana. Pertarungan yang akan menentukan siapa calon juara Eredivisie untuk pagelaran musim ini.

Hasilnya dapat ditebak, tidak seperti di musim pertamanya yang sukses menggulung Ajax dan memaksa hingga dua pekan terakhir dalam penentuan gelar juara. Kali ini takluk, meski penguasaan bola dikuasai oleh Feyenoord tetapi serangan balik Ajax yang cepat dan lebih efektif membuat seisi stadion terdiam, kepala-kepala tertunduk, dan mata mereka berair ketika melihat papan skor. Menyesakkan! Bahkan saat kekalahan itu posisi Feyenoord melorot ke posisi lima dan dalam hitung-hitungan berjuang untuk gelar juara pun sudah begitu sulit.

Keajaiban itu muncul.

Entah bagaimana semesta melahirkan sebuah skenario yang begitu cemerlang. Yang semula melihat pintu tertutup malah terbuka dengan lebar, penampilan Feyenoord terus membaik dan lawan-lawannya menampilkan penampilan yang tidak terlalu baik hingga dapat menyalip sampai di posisi dua dan terus menerus menunda pesta perayaan hingga dua pertemuan terakhir.

Sebenarnya dalam empat atau tiga pertemuan terakhir Ajax sudah mengunci gelar juara bila dihitung-hitung di atas kertas, karena bila point posisi satu dan dua sama hingga akhir musim dapat dilihat dari selisih gol dalam menentukan siapa yang menjadi juara dan bila melihat selisih gol. Ajax lah yang menjadi juaranya.

Secara ajaib pula, kemenangan pertama di Eindhoven setelah pembantaian besar di jaman yang modern ini. bila dulu saya tertunduk lesu dengan kekalahan Arsenal di OT dengan skor mencolok 8-2, apa yang terjadi bila saya dari dulu sudah benar-benar mengikuti klub asal Rotterdam ini. apa kata dunia bila mendengar adegan pembantaian 10-0?

Gila! Itu gila! Itu adalah hasil akhir yang gila!

Di bantai SEPULUH GOL TANPA BALAS DI JAMAN YANG MODERN DAN DI LIGA TERTINGGI DI BELANDA!!! ITU ENGGA WARAS!!!

Iya, memang engga waras dan sejak saat itu untuk mendulang kemenangan di kandang PSV begitu sulit hingga banyak yang memprediksi bila Feyenoord akan tergelincir dan Ajax merayakan pesta kemenangannya saat itu. tapi, sepakbola bukanlah soal statistik tetapi apa yang terjadi di lapangan kadang tidak sama dengan apa yang ada di atas kertas.

Feyenoord berhasil mengalahkan PSV!

Dua pertandingan terakhir Koeman bersama Feyenoord.

Pertandingan terakhir di De Kuip. Laga yang sarat dengan emosional dan ada dua perayaan yang akan dilakukan di stadion kebanggaan orang Rotterdam. Perpisahan dengan sang pelatih dan mengunci posisi dua bila berhasil memenangi laga saat itu.

Tidak ada bagian yang lebih menyedihkan saat kehilangan orang yang begitu sayangi, orang yang membangunkan kita dari keterpurukan dan menerima kita apa adanya. Dia dengan sabar merawat dan membesarkan kita hingga besar. Monster yang telah lama tertidur, ia rawat perlahan, menyembuhkan luka yang ada di tubuhnya, membawakan mimpi-mimpi yang dulu begitu akrab dengannya.

Iya, Koeman pun menitikkan air matanya ketika mengucapkan ucapan perpisahan di De Kuip, bahkan ia mengatakan bahwa ia sangat takjub dengan supporter yang terus mendukung klub meski dalam keadaan yang jelek sekalipun mereka tetap bernyanyi untuk mendukung klubnya.

Pertandingan terakhir di De Kuip berakhir dengan kemenangan bagi tuan rumah, perayaan besar dilakukan dan mendapatkan nyinyiran dari fans lawan mengenai perayaan yang dilakukan padahal tidak juara.

Posisi dua dan zona eropa kembali. Itu adalah hadiah perpisahan yang terindahan yang diberikan oleh Ronald Koeman untuk Feyenoord Rotterdam!

Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, banyak cerita yang tertulis di lubuk hati Koeman saat menangani klub ini. tidak selalu mulus-mulus seperti paha-paha para personil chibi.

Perpisahan adalah kata yang paling menyesekkan, terutama bila berpisah dengan orang yang kita cintai. Dia, Koeman merupakan orang yang sudah terlanjur dicintai oleh Het Legioen, harapan untuk juara di musim depan sudah diletakkan dibahunya, tetapi apa mau dikata ia telah pergi untuk selamanya.

Senyuman dan lambaian tangannya mengisyaratkan kepergiannya yang akan digantikan oleh Fred Rutten. Sosok yang pernah membawa PSV menjadi juara dan Vitesse menjadi penganggu.

Sekarang, ia akan pergi meninggalkan. Harapan dan cintanya selalu ditaruhkan kepada Feyenoord.

Terima kasih, Koeman!!.

“Oens een Feyenoorder, altijd een Feyenoorder!” – Koeman.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s