Uncategorized

300 : Sepercik Kisah Arsenal.

Image

Sudah menyaksikan film ini? kalau ditanya kepada saya, apakah film ini bagus apa tidak? Saya akan dengan senang hati untuk menjawab bagus, namun sayangnya saya tidak menonton yang 3D padahal kalau nonton dengan 3D akan lebih asyik lagi tampaknya.

            Masih dalam cerita perang antara Yunani dengan bangsa Persia. Tapi, kali ini tempat perangnya berbeda dari kisah sebelumnya. bila sebelumnya tempat perangnya di daratan antara tebing-tebing dan saya lupa nama tempatnya itu apa, kalau yang kedua ini perangnya berada di lautan. Dan, tokohnya pun berbeda, bila yang pertama antara Leonidas dan Xerxes, kalau yang kedua ini Themistocles dan Artemesia. Iya, meski penggalan cerita di cerita pertama masih ada.

            Di mulai dengan menceritakan tentang kisah kepahlawanan Themistocles yang berhasil membunuh raja persia saat itu –Darius dengan panahnya. Lalu menceritakan bagaimana Xerxes dibaptis dan menjadi manusia setengah dewa oleh saran dari Artemesia yang dikisahkan memiliki dendam dengan Yunani.

            Singkat cerita, perang antara Yunani dan Persia kembali di mulai lagi. Di laut, pasukan maritim yang dipimpin oleh Themistocles dengan pasukan yang tidak terlatihnya berusaha melawan pasukan maritim yang terkenal kuat dengan pimpinan Artemesia yang menjadi orang kepercayaan raja sebelumnya dan dia banyak menghadirkan kemenangan bagi Persia.

            Sebelumnya, di Yunani terpecah menjadi dua, ada yang memilih untuk bernegoisasi dengan pasukan Persia dan tunduk kepada lawannya. Tetapi, Themistocles sang pahlawan berdiri dan mengemukakan suaranya untuk melawan Tirani.

“Better we show them, we choose to die on our feet, rather than live on our knees!” – Themistocles

Kata-kata itu menggema, dan Themistocles pergi ke Sparta untuk meminta bantuan prajurit terhebat untuk melawan Persia. Tapi, sayangnya Sparta menolak untuk bergabung dan memilih untuk melawan Persia sendiri.

Dan, sampai sini saya bercerita tentang kisah 300 yang baru. Karena esensi dalam penulisan ini bukan review tentang film ini, tetapi ini menjadi pembuka sebelum memulai ke esensinya. Secarik kisah tentang Arsenal.

Saya harap, teman-teman bisa menikmatinya.

***

            Masa-masa gelap itu mulai menghampiri Arsenal ketika masa pembangunan stadion baru yang megah itu dimulai, dengan alasan penghematan hampir jarang ditemukan pembelian pemain yang cukup wah dan lebih sering menikmati setiap gosip atau pemberitaan yang hanya menjadi penyedap telinga agar hati para supporter tenang dan sedikit senang dengan berita tersebut, padahal kebenaran beritanya pun belum tentu benar.

            Pemain-pemain bintang setiap musimnya pergi meninggalkan Arsenal dengan alasan Arsenal tidak memiliki ambisi yang besar untuk berprestasi, mereka mulai lelah dengan peperangan dalam dirinya dan yang mereka rindukan adalah sebuah pencapaian mengangkat piala sebagai pemain profesional. Dan, saya tidak mau mengambil spekulasi kalau mereka pergi karena alasan gaji yang didapat di klub barunya lebih besar daripada yang sanggup diberikan di Arsenal.

            Dalam masa sulit itu, banyak yang meminta Arsene untuk mundur dari jabatannya dan perubahan yang terjadi di tubuh Arsenal. Mereka berharap klub dapat membeli pemain-pemain bintang untuk mencapai prestasi, tapi banyak juga yang masih berharap Arsene untuk terus melanjutkan masa baktinya di klub yang memiliki nama hampir sama dengan dirinya.

            Waktu terus bergulir, Arsenal selalu berprestasi dengan konsisten untuk berada di peringkat empat besar tiap musimnya dan tetap konsisten untuk berpuasa gelar. Selain diet ketat dengan yang namanya pengeluaran, tampaknya klub ini pun melakukan diet dalam meraih piala-piala, atau mungkin saja biar dapat di sangka menjadi tim medioker yang prestasinya engga bagus-bagus amat dan tim perusuh di empat besar, untuk menjadi kandidat juara pun nama Arsenal tidak terlalu diperhitungkan.

            Filosofi yang diterapkan oleh bapak tua ini pun selalu konsisten tiap musimnya, bermain dengan cantik apapun hasilnya yang penting main cantik. Bahkan sampai sering saking bermain cantiknya, hasil yang didapatkan pun nihil. Atau kekonsistenan lainnya mengenai, memilih pemain baru yang berasal dari antah berantah yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang, dengan harga yang murah, lalu menjual pemain tersebut pada waktu yang tepat dengan mendapatkan keuntungan yang besar.

            Jadi, rasanya tidak selalu benar bila mengatakan bahwa Arsenal merupakan tim yang tidak konsisten, dari yang saya tuliskan di atas, kita sudah mendapatkan beberapa hal yang membuat Arsenal menjadi tim yang konsisten.

            Dia, Arsene. Seperti Leonidas atau Themistocles yang kuat memegang prinsip mereka, bahkan terdengar seperti orang yang begitu percaya diri, egois, dan keras kepala dengan apa yang menjadi tujuannya.

            Leonidas dan Themistocles, sama-sama berperang untuk memperjuangkan negaranya dari bangsa Persia yang ingin menghancurkan Yunani. Leonidas melawan Xerxes hanya dengan 300 pasukan, namun 300 pasukan itu mampu membuat Persia kesulitan dalam mengalahkan pasukan Sparta. Mereka bermain dengan cantik, memanfaatkan tempat pertempuran yang sempit untuk menahan gempuran pasukan Persia.

            Lain lagi dengan Themistocles yang berperang dengan Artemesia di laut, dia tidak memiliki pasukan laut sekuat dan sebanyak yang dimiliki oleh Persia saat mengempur di laut. Namun, bagi Themistocles atau Leonidas, mereka sama-sama memiliki satu prinsip, lebih baik mereka mati di medan peperangan saat dengan jiwa yang merdeka dan melawan tirani yang ingin menguasai bangsanya.

            Mereka berjuang untuk bangsanya, mereka berjuang hingga tetes darah penghabisan, mereka meninggalkan keluarga atau pekerjaan mereka untuk bangsa mereka. Lalu, apakah para pemain pun akan menjadikan setiap pertandingannya untuk meraih kebanggaan itu? dengan segala usaha kerja keras mereka.

            Mungkin, kita akan mengambil tentang Arsene adalah Themistocles atau Arsene adalah Leonidas, bahkan Arsene adalah keduanya. Sama-sama egois dan keras kepala dengan apa yang menjadi rencana dan harapannya. Ia, menginginkan untuk membangun klub dengan lambang meriam menjadi klub yang hebat dan besar lagi.

            Banyak yang beranggapan bahwa Arsene terlalu keras kepala dengan gayanya yang kolot, beberapa musim belakangan terus mengutamakan pemain muda atau murah dengan permainan indahnya. Permainan indah memang menarik, namun permainan indah yang diperagakan seakaan tidak menghasilkan apa-apa.

            Ada pula yang berpendapat bila, ia hanya mengutamakan uang dan uang. Bukankah Arsenal membutuhkan uang untuk dana operasionalnya? Bukankah, beberapa tahun yang lalu Arsenal masih dalam kesulitan keuangan?

            Atau yang mengutarakan bila waktunya Arsene memang sudah habis, sekarang bukan jamannya lagi. Dia sudah cukup untuk membangun Arsenal, dan sekarang lebih baik diberikan tampuk kepelatihannya itu kepada pelatih lain yang melanjutkan pekerjaan berat ini. dan, lebih baik Arsene menikmati masa tuanya seperti seorang yang mempunyai kebiasaan memakan permen karet itu.

            Aku mulai memainkan fantasiku yang liar ini. Di awal musim, aku pun ikut untuk mencak-mencak tentang pembelian pemain yang menurutku kurang dan sangat kurus seperti orang berpenyakitan. Oleh karena film 300 ini aku mulai menggunakan daya imajinasiku, jangan-jangan Arsene kesurupan roh-roh dari Sparta yang percaya bahwa dengan jumlah yang sedikit bisa memenangi sebuah kompetisi yang berat dan sangat menguras fisik ini.

            Semuanya terasa baik-baik saja sampai tengah musim dan merasakan yang namanya juara tengah musim, lalu bahaya itu mulai muncul setelah pertengahan musim. Beberapa pemain mulai merindukan meja perawatan dan harus menepi dalam waktu yang lumayan lama, dan belum lagi soal kelakuan mereka yang di luar lapangan membuat permainannya tidak bagus, atau tentang persoalan gaji yang belum selesai tentang perpanjangan atau pemain memutuskan untuk meninggalkan Arsenal.

            Bila di film, Themistocles pun merasa terdesak ketika armada lautnya mengalami kekalahan melawan Artemesia. Di darat, pasukan Sparta berhasil ditumpas oleh Xerxes karena penghianat seorang yang cacat dan ditolak oleh Leonidas untuk ikut berperang. Di Athena, berkumpul untuk membahas tentang nasib mereka. Singkat cerita, Athena dibakar oleh Xerxes dan Themistocles berusaha untuk mengadakan perlawanan terakhir melawan Artemesia.

            Pemain-pemain Arsenal, mulai tumbang karena cedera dan membuat Arsene merasa terdesak, namun beruntungnya, ia masih mendapatkan kepercayaan dari board yang memastikan mendukung dirinya. Riak-riak kecil dari bagian supporter masih dapat terdengar.

            Arsene bersama dengan para pasukannya yang tersisa, terus berjuang melawan segala ketidakmungkinan. Mereka diperhadapkan dengan kekalahan di UCL, kekalahan di perebutan penguasa kota, dan lebih sakit lagi hitung-hitungan peluang Arsenal semakin samar karena penampilannya yang mulai menurun.

            Dia berjuang dengan apa yang ia miliki dan percaya terhadap kemampuan anak didiknya tersebut. Meski Arsenal menjadi tim yang paling menyukai kejebolan besar ketika sedang bertemu dengan tim besar lainnya, tetapi Arsenal tetap menjaga keamanan posisi empat besarnya.

            Di akhir cerita, Themistocles berhasil membunuh Artemesia yang merasakan kekalahannya di akhir cerita hidupnya. Hal yang paling ajaib ialah, kedatangan ratu goro yang berasal dari Sparta untuk membalaskan dendamnya kepada Persia dengan pasukan yang begitu banyak.

            Aku tidak berani berkata bahwa di akhir cerita musim ini pun Arsenal berhasil untuk membuka diet yang tidak sehat karena sudah lama tidak memakan makanan yang berat.

            Sampai saat ini, Arsenal terus berkembang untuk terus bersaing. Dan, aku tidak mengetahui bagaimana juga akhir kisah kepempimpinan Arsene nantinya, karena musim panas ini kontraknya pun akan segera berakhir. Apakah ia akan memperpanjang kontraknya, atau memilih untuk pensiun dari sepakbola dan kembali menjadi pengajar?

            Aku tak tahu. Bila ia memang akan meninggalkan Arsenal di musim ini, semoga saja akan ada persembahan yang terbaik di sisa pengabdiannya bersama Arsenal. Mengakhiri dengan gelar.

            Dan, satu hal yang berada dalam benakku pun. Kembalinya para pasukan sparta dulu untuk bahu membahu membangun kembali Arsenal di masa setelah kepergian Arsene nantinya. Semoga tuhan akan kembali dan mengayunkan sihir ajaibnya.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s