bola

Untuk Sebuah Harapan dan Mimpi.

Image

“If you’re the only one who dream, it’s only a dream…, but when millions share the dream, it’s reality.” (Brazilian old phrase)

Ah, lagi-lagi ku bermimpi tentang suatu hal yang sulit terjadi dan membayangkannya saja aku bergidik ngeri. Bermimpi tentang sepakbola Indonesia. Mimpi tentang sepakbola yang lebih baik lagi di suatu masa, dan puncak dari mimpi itu mendengar suara Indonesia Raya mengaung di Piala Dunia. Melihat, setiap pemain mengenakan lambang garuda di dadanya. Lalu, mereka bermain dengan segala kebanggaan, mengharumkan nama Indonesia di kancah sebesar ini.

Aku tahu itu hanya sekedar mimpiku, tapi ku pun percaya bila setiap dari kita pun memiliki mimpi yang sama denganku dan percaya bahwa suatu saat nanti, entah kapan, tapi pada suatu waktu di masa depan melihat Indonesia berlaga di Piala Dunia.

Sulit memang mimpi itu terwujud dalam waktu dekat ini, melihat kondisi sepakbola nasional yang masih terus disandera oleh kepentingan-kepentingan politik, mencari kekayaan, dan melupakan tentang sesuatu yang ada di dalam sepakbola itu sendiri.

Sepakbola itu sendiri bukan hanya tentang menendang, menahan, menangkap, mengocek, atau mengumpan bola, bukan juga hanya sekedar tentang olahraga di lapangan besar yang diisi oleh dua kesebelasan untuk mencari kemenangan. Tetapi, dalam sepakbola pun kita bisa belajar, belajar tentang kehidupan, dan belajar tentang harapan dan mimpi yang tidak pernah dapat kita pelajari dibangku sekolahan manapun.

Apakah kamu sudah bangga dengan sepakbola nasional? Suatu saat, temanku mengajak untuk pergi ke stadion untuk menyaksikan pertandingan sepakbola klub lokal, dan dia mengatakan kepadaku.

“Kalau bukan kita yang bangga terhadap sepakbola nasional atau klub lokal, terus siapa lagi?” atau tentang pertanyaan yang sering muncul dalam benakku, apakah sepakbola nasional sudah menjadi raja di negerinya sendiri?

Kamu pun dapat menanyakan kepadaku tentang itu, dan aku akan menjawab dengan penuh keraguan, apakah aku benar-benar sudah bangga dengan sepakbola nasional? Dan, aku pun tidak terlalu banyak memahami tentang klub-klub lokal, bagaimana kompetisinya, bagaimana keadaan klubnya, bagaimana kekerenan supporter lokal? Aku, aku selalu menyukai sepakbola luar dan terkadang malah menganggap sepakbola nasional terlalu membosankan untuk disaksikan.

Ternyata, aku salah. Aku salah dengan anggapanku sebelumnya, aku salah dengan berkata seperti itu. aku merasakan atmosfer yang keren itu saat aku menyaksikan PSMS melawan Persija beberapa musim yang lalu, berdiri di atas bangku dan ngechants bareng, mengibarkan bendera, melihat perempuan yang berdiri dan membakar semangat teman-temannya saat bernyanyi. Setelah pertandingan itu, aku tertunduk karena ayam kinantan harus mengakui kekalahannya dari tim ibukota, tetapi, aku merasakan hal yang membuat kurindu untuk dapat kembali ke stadion dan menyaksikan pertandingan klub lokal secara langsung.

***

Apakah aku menyukai hal-hal yang seperti ini? hal yang membuat aku seperti orang yang sedang berhalusinasi tentang harapan dan mimpi itu. di tengah keadaan yang tak menentu, keadaan yang membuat kita berpikir bila mimpi itu tidak mungkin terjadi. Tidak, tidak, mimpi itu pasti bakalan terjadi, tapi masalahnya entah kapan menjadi nyata.

Mendukung timnas, entah karena aku yang kurang update atau memang setiap pertandingan timnas sepakbola Indonesia pun sudah kembali ke garis biasa dan tidak bergelora. Ah, rasanya aku yang kurang update dengan jadwal pertandingan timnas sepakbola Indonesia. Apalagi, tentang U-19 yang sedang melakukan tur dan bermain dengan jeda pertandingan yang minim, entah seperti sedang mengejar setoran atau memang benar-benar melakukan pembenahan dalam fisik anak-anak. Atau, tentang pertandingan tim senior di Eropa yang ngomongnya mencari pengalaman, tetapi kalau dengan alasan cari pengalaman, kenapa pemain tua yang diikut sertakan?

Bagaimana dengan jadwal kompetisi? Apakah masih sedang berlangsung atau sedang berlibur lagi menjelang pemilu? Untuk ini aku bingung, apakah kompetisi masih berlangsung atau tidak. Atau apakah klub-klub yang mengatakan pro itu masih sehat? Pembayaran soal gaji tidak menunggak lagi, dan apakah setiap klub pro memiliki pembinaan usia muda, atau akademi-akademi yang dapat memasok pemain muda untuk klub tersebut?

Ah, aku benar-benar bingung dengan hal ini. ku tak mau menyalahkan para politisi busuk yang memanfaatkan olahraga yang digemari oleh sebagian besar penduduk Indonesia untuk kepentingan mereka, atau orang-orang yang ikutan bermain untuk mencari keuntungan dari sini.

Mimpi-mimpi itu sebenarnya masih ada dan bisa menjadi nyata, hanya para politisi busuk dan orang-orang yang mengorek keuntungan itu yang mengambil mimpi itu dengan paksa bahkan membuat kita terpaksa untuk menyerah dengan mimpi itu.

Mimpi. Kamu tahu apa itu mimpi? Apakah kamu pernah bermimpi? Aku menyadari bahwa mimpi adalah bunga-bunga yang mewarnai saat tidur, dan mimpi itu bisa berwujud buruk atau indah. Mungkin, sekarang kita semua sedang bermimpi buruk melihat orang-orang yang dibilang mafia itu berkuasa lagi.

Sama seperti sinetron-sinetron yang di layar kaca, yang menampilkan kisah-kisah membuat kisa bangga dengan kisah heroik atau kesal dengan penampilan orang yang baik tapi bloon membiarkan kejahatan terus mencengkram dirinya. Seperti kisah, rejim lama yang penuh dengan kebobrokan telah diganti dengan rejim yang baru, rejim yang diharapkan lebih baik dan memberikan perubahan, tetapi nyatanya? Sama saja. Lalu, rejim lama yang tumbang masih terus membombardir rejim baru dengan segala cara, yang akhirnya perseturuan dua rejim ini diselesaikan oleh anak curut yang tiba-tiba masuk tak tahu apa-apa dan membiarkan rejim lama kembali masuk ke dalam rejim yang baru.

Bahkan, kita terlalu sibuk untuk menikmati segala cerita sandiwara yang dipamerkan oleh bapak-bapak yang terhormat itu, sehingga terkadang kita bisa lupa dengan hal yang lebih penting. Klub-klub yang mengatakan pro masih suka dengan menunggak gaji pemain, harus berapa pemain lagi yang menjadi korban dari keganasan orang-orang yang rakus ini?

Akademi dan pembinaan. Sudah saatnya kita membangun hal ini, anak-anak muda meskipun memiliki talenta dan bakat hebat pun akan menjadi sia-sia bila tidak dibina dengan baik. Sumber daya manusia kita terlalu banyak, bila kamu membayangkannya masa kita tidak memiliki pemain-pemain muda yang hebat sehingga naturalisasi pemain yang sudah berumur?

Pembinaan yang secara kontinu dan berkelanjutan, bukan hanya setiap tahun dalam skala besar karena ada event tertentu. Mengapa tidak mencoba dalam skala kecil tetapi jelas kelanjutannya bagaimana, hingga akhirnya memupuk mental bermain si pemain dan kemampuannya.

Bukankah sekarang sudah waktunya para klub pro hidup bebas dari dana APBD? Bila, benar-benar sudah bebas dari dana APBD. Mungkinkah bila dana-dana APBD itu dipakai untuk pembinaan atau untuk membangun lapangan-lapangan yang berkualitas dari tingkat kecamatan. Sudah saatnya, klub yang mengatakan dirinya klub pro tidak membakar uang, mengaji pemain dengan tinggi tapi tidak memiliki hasil dalam jangka panjang. Sama seperti, kita membeli petasan dengan harga yang mahal, keren memang ketika kita ledakkan, namun setelah meledak, sudah, engga ada gunanya lagi.

Bukan hanya soal mengenai pemain, pemain, dan pemain. Kita memerlukan pelatih yang hebat yang memiliki kemampuan dalam melatih dan mendidik para anak didikannya. Pelatih adalah faktor penting, pelatih yang hebat adalah membuat pemainnya yang dibilang orang pemain jelek, tetapi bisa membuat pemain itu menjadi pemain hebat. Mereka memiliki tanggung jawab dan peranan yang besar bagi si pemain tersebut.

Kita pun perlu memiliki wasit-wasit yang berkualitas dan memiliki lisensi dari AFC, bahkan FIFA. Lalu, orang-orang yang berkorban untuk sepakbola nasional, bukannya mencampuradukkan kepentingan politik di dalamnya.

Sudah saatnya sepakbola nasional berbenah.

Kuakui, aku tidak tidak dapat bermain sepakbola dengan baik. Menari-nari di lapangan hijau bersama si bola bundar, namun aku bersyukur, karena aku masih dapat menari-nari melalui cerita-cerita dengan jari jemariku ini.

Ini memang semua mimpi, dan ini memang semua tentang harapan tentang sepakbola Indonesia yang lebih baik lagi. Seperti yang dikatakan oleh coach Timo, Indonesia Bisa! Dan, aku bersyukur karena dalam buku coach Timo ada kutipan yang pernah kutulis.

“Suatu hari nanti, saya percaya sepakbola akan bisa membuat warga Indonesia bangga pada negaranya.” – saya.

 

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s