bola

Romantisme Garuda.

Image

Siang itu sehabis perkuliahaan seperti biasa aku bersama dengan teman-teman sekelasku pergi ke kantin untuk menyesap secangkir kopi hitam, sebatang rokok, atau sekedar bersendau gurau. Di tengah-tengah dalam saat obrolan itu, aku mendengar kata-kata yang membuat aku terlena dan memikirkan kata-kata itu. Romantis dan romantisme.

Aku mulai mencari arti kata dari romantis dan romantisme itu sendiri, tetapi yang aku dapatkan tidak terlalu sebesar yang aku harapkan awalnya. Bila menurut KBBI arti dari romantis itu; bersifat mesra, mengasyikan. Atau bila definisi-definisi yang diberikan oleh teman-temanku hampir semua sama yaitu; sesuatu yang membuat hati berbunga-bunga dengan segala kejutan yang diberikan oleh seorang yang kita kasihi.

Hingga akhirnya, aku terdiam ketika membaca pesan dari seorang temanku yang memberikan definisi romantis ialah; how someone sacrifices something to the one they love right to the portion. Atau, suatu perlakuan istimewa dari seseorang terhadap seseorang yang dia cintai dengan berbagai cara yang menunjukkan dan menghasilkan ekspresi dan perasaan yang bahagia.

Hingga akhirnya, aku hanya tersenyum-senyum membaca pesan yang diberikan oleh teman-temanku ini.

I.

Lalu apa hubungannya dengan sebuah keromantisan dengan garuda? Dimana garis merah yang dapat ditarik? Entahlah, tapi aku suka ketika menarik sebuah garis ini ketika aku membaca mengenai arti romantis yang diberikan oleh temanku di paragraf sebelumnya.

Aku memasukkannya dalam dua sudut, antara kita sebagai supporter atau pendukung dengan mereka sebagai pemain atau tim kepelatihan yang menjelma menjadi pasangan yang menikmati percintaan dan dalam hati mereka semua memiliki keinginan untuk menjadi seorang yang romantis bagi pasangannya.

Tentang pengorbanan, mungkin kita terlalu sering melakukan ini dengan mengorbankan perasaan kita. Membiarkan kita sedih atau menangis ketika mereka yang bergelut dengan keringat di atas lapangan hijau mendapatkan hasil akhir yang membuat mereka tak kuasa menahan dagu mereka terangkat. Kaki-kaki mereka menjadi sangat berat menahan beban-beban yang ditunjukkan kepada mereka. Mereka memilih untuk tertunduk lesu, bahkan tak jarang menumpahkan air mata mereka.

Hingga akhirnya, kita menghela napas dalam-dalam dan mengatakan bila masih ada tahun depan untuk dapat juara. Hingga akhirnya, mereka yang berjuang di atas lapangan tidak sanggup berdiri karena telah mengecewakan dukungan yang diberikan oleh pasangannya, yang bisa saja membuat mereka merasa sakit hati dan kecewa terhadap diri mereka sendiri.

Tangisan itu sama. Tangisan itu mengambarkan tentang kekecewaan dan kesedihan akan yang namanya kekalahan. Sekuat apa pun orang itu, akan sulit menahan air mata yang begitu kuat mendesak keluar. Hingga pada detik selanjutnya, mereka yang menangis akan tersenyum dan kembali memberikan dukungan kepada pemain-pemain yang telah berjuang. Mereka yang berjuang!

Dan, ini adalah bagian dari sebagian kisah tentang kisah-kisah romantis yang kalian buat, atau mereka buat, atau kita buat.

II.

Di lain kesempatan yang lainnya, kita akan begitu bahagia ketika melihat penampilan garuda-garuda yang berjuang hingga akhirnya saat peluit panjang ditiupkan. Yang terlihat bukan wajah yang penuh dengan kekecewaan, bukan kaki-kaki yang berat, tetapi senyuman lebar yang terkembang dimana-mana, atau kaki-kaki yang berat itu terasa begitu ringan untuk melompat atau berlari merayakan kemenangan mereka.

Mungkin pada saat ini kita sering melihat sebuah hasil akhirnya dan keseringan kita lupa dengan sebuah yang namanya proses. Mereka dilatih untuk siap menjadi seorang pemenang, bagaimana usaha kerja keras mereka ketika menyantap porsi latihan yang diberikan oleh pelatih. Bagaimana mereka mau terus berjuang untuk memberikan sebuah hasil yang manis bagi kekasihnya yang tak henti-hentinya mendukung mereka.

Bila di lapangan ada yang berjuang. Di luar lapangan pun turut demikian, ribuan orang memadati stadion. Mereka bukannya orang-orang yang hanya ingin sekedar menghabiskan waktu mereka untuk menonton sepakbola. Mereka ingin mendukung karena mereka mencintai timnas sepakbola Indonesia, mereka pun bukan tanpa pengorbanan yang mereka keluarkan.

Ada tentang yang namanya mengeluarkan uang mereka untuk membeli tiket, ada yang namanya menahan diri ketika mendengar selentingan orang berkata; buat apa dukung sepakbola Indonesia? Paling hasilnya kalah juga.  Atau macam-macamnya yang menghadang, tapi rintangan itu tak membuat mereka tak mundur, malah mereka tetap datang lalu mendukung dengan tak kenal lelah. Mereka bernyanyi, mereka melakukan gerakan-gerakan yang indah, mereka menghidupkan suasana dalam stadion dengan gemuruh-gemuruh yang sepertinya tidak mengenal kata lelah. Dalam kondisi kalah pun, mereka masih tetap mendukung.

Ada sebuah kebahagiaan yang begitu luar biasa ketika melihat Indonesia menang. Indonesia dapat kembali mengangkat piala kembali. Lelah yang menghinggapi mereka hilang begitu saja oleh kebahagiaan dan euforia kemenangan.

III.

Tapi, ternyata tak semua cerita selalu dijalani seperti itu. ada kisah yang dilahirkan dari luar lapangan hijau, jauh dari permainan menyepak bola dengan perang taktik yang ditampilkan oleh pelatih. Cerita tersebut lahir dari orang-orang yang mengaku mencintai olahraga ini datang untuk mengurus olahraga ini.

Orang-orang itu adalah para bapak-bapak yang terhormat.

Ah, aku terlalu lelah untuk membicarakan mereka yang mulai melupakan tentang sepakbola itu sendiri, mereka terlalu sibuk dengan kepentingan mereka dan segalanya yang memenuhi muatan gerbong mereka. Lalu, ketika segala permasalahan itu mulai muncul. Mereka malah sibuk untuk mencari kambing hitam yang mereka pelihara sendiri atau tragisnya mereka menyalahkan pemain yang tidak profesional karena membuka borok ke depan umum.

Seperti pemain yang tak kunjung mendapatkan kepastian, kapan gaji mereka dibayarkan secara lunas? Kapan mereka dapat bermain tanpa harus terus menerus memikirkan tentang bulan ini apakah gaji saya lancar?

Atau, kualitas dari wasit. Membuat pertandingan sepakbola menjadi ramah terhadap keluarga dan menjadikan pertandingan sepakbola menjadi liburan tersendiri bagi keluarga mereka, bukan lagi tempat yang mengerikan karena dapat menjadi lahan pertempuran antara pemain dengan pemain, bahkan bentrokan antar pendukung.

Bukan kah kita semua masih terus berharap tentang sepakbola Indonesia yang lebih baik lagi? Bukan kah itu semua yang kita harapkan, sepakbola Indonesia diurus oleh orang-orang yang bukan hanya mencari keuntungan dari sepakbola tetapi dapat menghidupinya dan membuat sepakbola Indonesia kembali berprestasi lagi?

Mungkin, aku tidak terlalu ingin bermimpi muluk-muluk seperti memimpikan Indonesia bermain di Piala Dunia. Aku rindu setidaknya Indonesia kembali disegani di kawasan Asia Tenggara terlebih dahulu sebelum membicarakan level Asia atau Dunia, tapi lebih dari itu aku rindu untuk pembenahan kompetisi dan klub-klub agar kejadian-kejadian yang pernah terjadi di tahun sebelumnya dapat tidak terjadi lagi di tahun ini bahkan tahun-tahun selanjutnya.

Seperti kisah-kisah romantis lainnya, kita hanya dapat berkorban dengan kesetiaan kita menunggu kisah manis itu terulang kembali. Kisah tentang kemenangan dan akhir dari penantian ini. bila memang sepakbola Indonesia terkena kutukan, apakah dengan ciuman oleh sang putri kutukan itu akan berakhir?

Selamat menikmati kisah-kisah romantis sepakbola Indonesia.

Standard

2 thoughts on “Romantisme Garuda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s