arsenal

Kisah Romantis Arsene.

12

Beberapa hari yang lalu saya menuliskan tentang kisah romantis lagi, namun dua hari ini hujan yang seakan masih setia menemani kota Jakarta –sebenarnya aku terlalu bosan dengan hujan di bulan Januari.- dan selalu berhasil membuatku terhenti untuk meneduh ketika hujan kembali membasahi jalanan Jakarta.

Mungkin, akan banyak orang yang mengatakan saat hujan turun merupakan suasana yang romantis bila berduaan dengan bau yang khas saat air-air itu mulai menitikkan membasahi debu-debu di jalanan. Namun, ada lagi yang mengatakan bila saat hujan turun merupakan suatu kebosanan tersendiri saat di jalan, apa lagi setelah hujan itu reda akan ada genangan air dan menimbulkan kemacetan yang membuat emosi meningkat.

Lalu pada Jumat kemarin, ketika aku sedang berteduh di sebuah halte yang tidak terawat lagi –Atap yang bocor. Aku melihat ke sebelahku, entah lah apakah mereka sepasang kekasih atau tidak, tetapi yang jelas mereka sedang berdua menantikan hujan siang itu reda. Mereka berdua saling bercanda menikmati penantian mereka tentang redanya hujan Jumat siang. Pasangan yang candu akan cinta dengan cuaca yang mendukung mereka, mungkin mereka pun akan mengatakan suasana yang romantis untuk mereka berdua.

how someone sacrifices something to the one they love right to the portion.”- Angel

Tiba-tiba aku teringat kata-kata ini dari seorang temanku yang kami pun jarang bertemu. Iya, saat itu aku bertanya kepada dirinya tentang arti dari romantis atau romantisme itu apa menurutnya.

Mungkin, kamu pernah membaca tulisanku sebelumnya yang mengenai sebuah keromantisan juga. Kali ini, aku ingin menuliskannya lagi dengan bentuk yang berbeda namun tema yang sama. Romantisme.

Lelaki tua yang kurus itu berdiri di pinggir lapangan mengamati jalannya pertandingan, terkadang ia sibuk untuk membenarkan resletingnya atau berbincang kepada sahabatnya yang botak dan memiliki tampang yang menyeramkan hampir menyerupai seperti tokoh dalam Harry Potter.

Bertahun-tahun ia berdiri disana dan beberapa tahun belakangan ini ia terus mendapatkan cacian bahkan tuntutan untuk meninggalkan klub yang ia besarkan –bahkan telah dianggap seperti anak sendiri olehnya.

Sebuah pengorbanan yang ia lakukan untuk sesuatu yang ia cintai. Mungkin, banyak orang yang akan menganggap dia gila, keras kepala, kolot, dan terlalu kaku. Namun, ia orangtua itu melakukan banyak hal untuk sesuatu yang ia cintai, suatu pengorbanan yang banyak orang lewati, suatu pengorbanan yang membuatnya menjadi sasaran empuk kekesalan para pendukung. Dan beruntungnya ia tidak tampil dengan suatu ucapan ‘saya prihatin,’ atau membuat album-album lagu terbarunya. Aduh, tidak! Saya jadi membayangkan pria tua ini melakukan hal seperti itu.

Ia selalu membanting satu botol di pinggir lapangan untuk meluapkan kekesalannya dan menyembunyikan tubuhnya yang kurus dalam jaketnya yang tebal seakan-akan ia akan tenggelam di dalamnya.

Ah, mungkin saya pun merupakan bagian seseorang yang jatuh cinta kepada pria tua ini. seseorang yang membuat saya pun rela untuk di caci oleh fans-fans klub lain, mereka yang mengatakan tentang puasa gelar klub yang saya cintai ini, mereka yang mengatakan tentang kemediokeran klub ini, mereka yang mengatakan musim ini adalah musim keberuntungan bagi klub asal London Utara, atau mereka yang mengatakan lihat saja di akhir musim. Arsenal kembali puasa gelar lagi.

Tapi, aku hanya tersenyum membalasnya.

Sesaat, sepertinya satu bagian dalam tubuhku telah mati. Mati untuk menyadari terlalu bodohnya aku dapat menantikan pria tua itu kembali tersenyum dan mengangkat piala lagi seperti tahun-tahun sebelum gelaran puasa dimulai.

1239634_508931399199517_1730387881_n

Pria tua itu tetap berusaha untuk dapat tersenyum dan mencari ide-ide terbaik untuk mendapatkan posisi empat besar sebelumnya, setiap musimnya ia selalu kehilangan anak-anak kesayangan terbaiknya. Aku terlalu lelah untuk mengabsen mereka semua. Mereka yang pergi meninggalkan pria tua itu, lalu mendapatkan apa yang mereka inginkan dan lagi-lagi orang-orang akan menjadikannya bahan untuk mencaci pria tua yang malang ini.

Seorang Belanda, selama di Arsenal bergelut dengan cedera dan tidak mendapatkan satu piala pun selama disana. Ketika ia pindah, langsung mendapatkan piala yang ia idam-idamkan, lalu di akhir musim ia ditinggalkan oleh pelatihnya dan mendapatkan suatu kenyataan bahwa klubnya sekarang kesulitan untuk menembus yang namanya lima besar.

Pria tua yang malang ini, pernah memberikan sebuah sejarah tentang kemenangan tanpa cela di satu musim kompetisi. Pria tua yang malang ini, membangun Arsenal menjadi satu klub yang besar, membangun satu stadion besar. Akhirnya, pria tua malang ini, harus kesulitan untuk mengatur kas keuangan klub.

Semua tentang pengorbanan yang ia lakukan, akhirnya menjadikan sebuah cerita yang manis. Tentang perjuangannya. Tentang cintanya yang tak perlu diragukan lagi. Tentang harapannya yang ingin melihat anak yang ia besarkan dan cintai lagi kembali menjadi satu kekuatan di Inggris yang bukan hanya pengejar empat besar, tetapi menjadi kandidat juara yang tidak bergantung pada uang yang dimiliki oleh pemiliknya.

Mungkin, aku akan menceritakannya lagi tentang kisah-kisah pria tua ini kepada anak-anakku nanti. Iya, meski pun masih lama bahkan sangat lama, tapi aku bersiap untuk menceritakan kepada anak-anakku nanti tentang seseorang pria tua kurus yang berdiri di pinggir lapangan itu. seorang pria tua yang mulai dapat tersenyum ketika usaha dan pengorbanannya nampak mulai berhasil.

Atau, tentang kesetiaan orang-orang yang tetap mendukung klub ini dan juga pria tua itu?

Aku masih ingat tentang suatu kejadian masa kecilku, dulu aku mengira nama Arsenal itu diambil dari namanya, Arsene.

Bahkan aku selalu menyukai kata-katanya ini.

14

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s