bola

Rindu Kami Pada Emas Dari Cabor Sepakbola.

Image

Apakah kamu rindu bila sejarah itu kembali terulang?  Sejarah yang dapat membuat seluruh rakyat Indonesia tersenyum bahagia di tengah permasalahan politik yang terus bergerak membuat rakyat jengah dengan ulah-ulah para politisinya itu sendiri, atau di saat kejengahan kepada para pemegang tampuk kekuasaan organisasi sepakbola di Indonesia. Iya, jengah terhadap drama-drama yang disajikan oleh bapak-bapak yang terhormat.

Aku tidak terlalu mau banyak bercerita tentang kiprah Timnas Sepakbola Indonesia di ajang SEA GAMES, dan aku pun tidak terlalu ingin bernolstalgia dengan sejarah-sejarah, meski sejarah itu penting, tapi tetap saja para bapak-bapak yang terhormat itu tidak pernah belajar dari sejarah yang terulang kembali, lagi dan lagi.

Lalu, aku pun kembali disadarkan dengan sebuah kalimat bijak bila hanya kamu yang bermimpi itu hanyalah sebuah mimpi belaka, tetapi bila banyak orang yang memimpikan hal yang sama, itu adalah kenyataan.

***

Gembar-gembor tentang peningkatan prestasi di ranah sepakbola pun menjadi kosong begitu saja, ah, mungkin saja waktu itu hanya sebuah oase di padang pasir yang selalu dirindukan dan rasanya begitu menyejukkan dahaga ketika kekeringan melanda.

Dua pertandingan awal di ajang dua tahunan ini aku lewatkannya, mungkin sampai pertandingan terakhir pun aku akan melewatkan pertandingan ini. Tidak, bukannya aku tidak ingin mendukung mereka yang berjuang melalui lapangan hijau untuk negara ini, tapi aku… terlalu sibuk dengan berbagai urusanku di perkuliahan ini. Dan juga, bukankah masih ada kehidupan yang lebih penting untuk ku jalani selain menyaksikan mereka bertanding lalu di pertengahan jalannya pertandingan tertidur karena rasa letih.

Terakhir kali kita dapat meraih emas di ajang ini itu, tahun 1991 saat kendali kepelatihan dipegang oleh Polosin yang terkenal dengan teriakkan Cipat! Cipat! untuk menyemangati anak asuhnya. Kerja keras selama latihan yang keras selama persiapan, hasilnya? Emas! Iya, emas! Kita meraih emas saat itu dan setelah itu kita tetap terus terbentur dengan harapan dan satu pertanyaan, kapan sepakbola dapat meraih emas di ajang Sea Games?

Sudahlah, lupakan saja bila bapak militer yang telah menjual idealismenya kepada seorang miliyuner yang tak sanggup untuk ku tuliskan. Apakah kamu tahu siapa yang aku maksudkan itu? oiya, dia itu menjadi pelatih magang di timnas sepakbola kali ini kah?

Rasanya aku ingin bercerita tentang awalan dari penulisan ini, awalnya aku ingin menulis dengan judul, rebut kembali emas itu, Garuda! Tapi, itu hanya menjadi sebuah wacana-wacana belaka karena ketika aku sampai kembali ke Jakarta daratan mendapati sebuah berita hasil dari Indonesia, tepatnya sih di cabang sepakbola.

Cukup, cukup! Cukup membuat jidat berkerut dan dibuat tidak mengerti mengapa disaat yang katanya sudah bersatu malah tidak terlalu berimbas dengan prestasinya? Oh, mungkin di paragraph ini kamu yang membaca akan memiliki argumentasi tentang prestasi yang di dapat oleh U-19 lalu, tapi mungkin kamu juga lupa bahwa aku tadi mengatakan itu seperti oase yang memabukkan yang membuat kita lupa daratan.

***

Apakah sepakbola yang dicintai oleh mayoritas rakyat ini terkena sebuah kutuk yang membuat susah untuk dapat berprestasi?

Aku tak pernah lelah untuk tetap berharap dan terus bermimpi, sampai kapan? Sampai mimpi-mimpi itu menjadi sebuah kenyataan dan sampai itu aku akan menjaga harapan itu untuk tetap berharap, meski pada kenyataannya harapan itu selalu diberikan rasa sakit hati. Benar kata orang-orang bila jangan terlalu berharap ketinggian dan jangan berharap pada manusia, karena hanya akan memberikan kekecewaan pada akhirnya. Tapi, bodohnya aku tetap melakukan hal itu dan terlalu menyukai hal tersebut.

Akan kah aku kembali bermimpi lagi tentang oase yang indah itu kembali? Akankah sejarah-sejarah yang manis itu terulang kembali? Akankah dan kapankah? Dua pertanyaan yang selalu mengusik dan mungkin saja, bapak-bapak itu tidak terlalu memperdulikan mimpi-mimpi yang selalu diberikan kepada mereka selaku pemangku kekuasaan? Jangan-jangan, mereka hanya peduli dengan mimpi mereka menjadi orang-orang yang memiliki harta yang banyak, tanpa memperdulikan gaji pemain-pemain yang tidak kunjung dibayar oleh klub mereka. apa mereka juga hanya perduli untuk orang-orang yang berada di belakang mereka untuk mendapatkan kekuasaan nanti?

Lalu orang-orang itu mungkin memiliki tingkat keberhasilan yang cukup mampu menyakinkan kita untuk mengacungkan jempol kepada mereka, karena mereka berhasil membuat persepakbolaan Indonesia semakin tertinggal dengan Thailand bahkan Timor Leste yang mantan bagian dari Indonesia pun bisa membuat hasil imbang melawan Indonesia. Bukan kah itu prestasi yang bagus?

Jangan bilang semua ini tentang atau berhubungan dengan kegiatan politik di tahun 2014 dan jangan pula bilang ini tentang sebuah skenario tentang perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh gerbong orang-orang lama yang ingin kembali mengambil kekuasaan sepenuhnya di dalam ruangan teater ini. ah, aku begitu naif bila menampik itu semua.

Lalu sampai kapan persepakbolaan Indonesia dapat seperti dulu yang cukup disegani setidaknya di Asia Tenggara saja dulu tidak usah terlalu bermuluk-muluk di level Asia bahkan di level Dunia.

Ah, memang. Semuanya ini adalah sebuah panggung yang sangat besar lengkap dengan sorotan lampu dan ornamen-ornamen yang menghiasi sebuah panggung sandiwara. Mereka, para bapak-bapak yang terhormat itu merupakan para aktor yang bermain, bahkan pemain sepakbola pun mereka anggap seperti para figuran yang melengkapi jalan cerita yang mereka rangkai.

Ketika para figuran ini berharap untuk mendapatkan hal yang lebih daripada hanya menjadi pelengkap, ketika para figuran ini menuntut hak mereka setelah berjerih payah membanting tulang dengan curahan keringat yang membasahi tubuh mereka, mereka malah dimarahi oleh sang sutradara karena di anggap merusak jalannya pertunjukan. Dan ketika itu juga peluh keringat mereka tidak diperdulikan, bahkan nyawa mereka pun tidak terlalu berharga untuk bapak-bapak terhormat.

***

Kembali lagi pada pagelaran yang sedang berlangsung di Myanmar ini. sangat beruntung bila sepakbola bukanlah menjadi tempat harapan paling besar untuk mendapatkan emas dari cabang olahraga ini, dan beruntung sekali para atlet yang lain tetap berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia di ajang ini, meski mereka tidak mendapatkan sorotan media sebesar cabang olahraga sepakbola. Ah, untunglah Indonesia belum mendapatkan emas dari cabang olahraga sepakbola, seandainya saja mendapatkan emas, sorotan media pasti akan tertuju lebih lama dan menutup keberhasilan cabang olahraga lainnya yang mendapatkan emas. Tuhan memang adil.

Ibu, dapatkah kau menghardik para bapak-bapak terhormat itu? ibu, tetaplah kau tersenyum disana. Berhentilah menangis Ibu, anak-anakmu yang lain pun membuatmu bangga dan dapat tersenyum. Ibu, mereka terlalu sibuk untuk urusan mereka, mereka tidak terlalu perduli dengamu Ibu. Mereka sibuk bersembunyi dibalik alasan-alasan yang begitu klasik dan mengawang entah kemana juntrungannya. Mereka pun sibuk untuk mencari kambing yang berwarna hitam, berlindung tentang persiapan yang kurang, dan berlindung kepada kesalahan yang selalu mereka perbuat.

Apakah ini semuanya akan segera selesai? Lalu, kapan kami dapat tersenyum melihat bendera Merah Putih terkerek ke atas tiang tertinggi dan para tentara-tentara di lapangan hijau itu tersenyum dengan simbah keringat yang membasahi baju mereka dan berteriak bersuka cita bukannya melihat mereka terduduk lemah dengan guratan kekecewaan yang tersirat di wajah mereka?

Kami berjanji kepadamu Ibu, kami akan tetap mendukung mereka yang berjuang untuk Indonesia. Siapa pun mereka, kami tetap mendukung mereka! Karena, meski kami membenci atau terlalu muak dengan federasi sepakbola atau kementerian pemuda dan olahraga atau mereka para bapak-bapak yang terhormat yang memiliki andil untuk keterpurukan sepakbola Indonesia. Kami akan tetap mendukung mereka, mereka yang berjuang atas nama Indonesia yang di dada mereka ada Garuda, mereka yang berjuang dengan semangat yang militan. Mereka yang berjuang untuk mempersembahkan emas, mereka yang berjuang untuk kemenangan segenap rakyat Indonesia bukan kemenangan segelintir orang yang mengeruk keuntungan dari kemenangan mereka.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s