bola

Kami Ingin Membahagiakan Bangsa Kami.

Image

Apa yang lebih membahagiakan selain melihat kemenangan?

Warna yang berbeda-beda itu berubah menjadi satu warna dalam satu dukungan ketika Indonesia bermain, tidak peduli dengan latar belakang mereka, tidak peduli dengan seberapa lama kita tidak pernah juara, tidak peduli dengan perbedaan dukungan kita terhadap klub apa, klub luar atau dalam negeri. Yang kita ketahui hanyalah satu, dukung Indonesia!

Mereka berjuang dengan kemampuan mereka, mereka memberikan kerongkongan kita air saat kita benar-benar haus akan kebahagiaan yang telah direngut oleh berbagai masalah. Media terlalu sering memberitakan hal yang negatif tentang orang-orang yang mereka liput, seperti para politisi yang tertangkap korupsi, artis-artis yang selalu mencari sensasi, para pejabat keadilan yang sedang disuap, atau pembangunan yang masih bergerak secara lambat, bahkan ditemukannya sebuah kerajaan yang begitu sulit diruntuhkan di daerah Banten.

Keringat-keringat itu tercucur keluar membasahi badan di bawah terik matahari, setiap target hari ini harus dapat diraih, mereka yang sering dikatakan berada di golongan menengah bawah berjuang dengan keras untuk dapat hidup sehari demi sehari.

***

Sepakbola merupakan olahraga yang populer di bangsa ini. hampir setiap golongan mencintai olahraga ini, saat bermain atau menonton pertandingan bola terkadang kita sering melupakan yang sering menjadi pembatas kita untuk dapat berpelukan dengan kehangatan atau tersenyum dengan puas bersama dengan mereka yang kita anggap berbeda.

Sepakbola dapat menjadi pisau bermata dua. Ia dapat mengajarkan kita tentang yang namanya persatuan dan perjuangan, tapi di lain sisi sepakbola pun dapat membuat kita lupa tentang persatuan bila kita tercampur dengan rasa emosi dalam menghadapi rivalitas. Untuk para pendukung klub-klub nasional mungkin masih terasa relevan bila terjadi keributan karena rivalitas, namun parahnya sekarang, atas nama rivalitas ada yang ribut-ribut di dalam negeri padahal yang ia dukung adalah klub luar negeri yang jauh dari tempat ia berdiri dan hidup.

Dan sepakbola merupakan alat yang mudah digunakan oleh para politisi yang suka dengan pencitraan, sepakbola yang dicintai hampir seluruh bangsa ini menjadi alat paling mudah untuk mendapatkan massa. Aku tak terlalu menyukai hal ini dan tak ingin menuliskan tentang hal ini.

Dulu, iya dulu. Indonesia disegani oleh negara-negara lain. Dulu pun kalau juara sudah biasa, sekarang kita sudah biasa bila tidak juara. Rindu. Kita benar-benar rindu melihat Indonesia atau Garuda kembali terbang tinggi mengepakkan sayap-sayapnya yang masih ringkih itu.

Ada suatu harapan dan mimpi. Aku selalu menyukai ketika pikiranku terbawa oleh harapan dan mimpi, berarti ada suatu kekuatan dibelakangnya yang membuat kita percaya bila Indonesia bisa.

***

Mereka yang berjuang sekarang umurnya memang masih muda, namun di umur yang masih muda mereka sudah berjuang untuk membela Indonesia, peluh keringat yang membasahi tubuh mereka hanya untuk dapat membahagiakan setiap orang Indonesia. Mereka bukan hanya berjuang untuk nama yang berada di belakang seragam mereka, mereka berjuang untuk logo yang berada di depan mereka. Di umur yang masih dibawah 19 mereka telah berjuang untuk Indonesia, dan di umur segitu apa yang telah kamu lakukan bagi bangsa ini? kalau aku harus jujur, aku belum dapat melakukan apa-apa untuk Indonesia, jangankan untuk Indonesia dalam hidup pribadi pun aku belum dapat berbuat banyak.

Beberapa hari yang lalu, ketika mereka bermain melawan Laos. Aku masih berada di toko buku untuk membaca-baca buku dan ketika aku melihat twitter, ternyata Indonesia sedang bermain. Dalam perjalanan pulang aku selalu memperhatikan pinggir jalan berharap menemukan tempat dimana aku bisa menyaksikan pertandingan ini.

Ada aura kerinduan dan harapan yang besar untuk Indonesia U-19 ini. mulai aku meninggalkan toko buku hingga sampai rumah, setiap tempat yang memiliki telivisi menyetel saluran telivisi yang menyiarkan, hingga akhirnya apotek atau tempat makan ramai memperhatikan ke layar kaca yang sedang menyiarkan pertandingan tersebut. Atau para penjual asongan menggunakan teknologi untuk menyaksikannya melalui ponsel yang ia miliki untuk dapat menyaksikan.

Ketika aku sampai rumah, pertandingan telah berlalu satu babak saat itu dan beruntung Indonesia dapat unggul saat itu. lalu aku menunggu pertandingan babak kedua dimulai, ketika pertandingan itu dimulai aku terdiam. Stadion sebesar itu sepi, tidak terisi sebanyak biasanya. Bahkan para pemain pun mengeluhkan sepinya dukungan, hingga mereka merindukan untuk kembali bermain di Sidoarjo yang dukungannya seakan tidak pernah berhenti. Mereka anak-anak muda Indonesia yang selalu bermimpi dapat bermain di Gelora Bung Karno dengan dukungan penuh, ternyata mendapatkan dukungan yang tidak sesuai dengan harapan mereka.

Aku mencoba untuk memahaminya, dalam hematku, mungkin ini karena pertandingan pertama sehingga stadion terasa begitu sepi terlihat, namun suara nyanyian dukungan untuk pemain pun dalam keadaan sepi masih terdengar berisik dan tak berhenti satu babak terakhir yang baru aku saksikan tersebut.

***

Apa yang dapat kau harapkan dari pemuda-pemuda ini? aku hanya berharap mereka tetap terus berjuang meraih setiap harapan dan impian itu, membahagiakan bangsa ini seperti yang dikatakan pelatih mereka Indra Sjafri.

Tidak banyak pelatih seperti Indra atau Nil, mereka berjuang dalam keterbatasan, mencari pemain-pemain yang benar-benar layak untuk membela Indonesia. Aku masih ingat ketika coach Nil berkata di saat AFF dulu sebelum dimulai, ketika saat itu timnas terbagi dua dan banyak yang meminta supaya timnas yang ia latih tidak berangkat ke Malaysia. Tapi, ia dengan lantang berkata, kami pergi ke Malaysia bukan untuk berlibur, tetapi kami pergi untuk berperang!

Ia mengibaratkan sebuah pertandingan itu sama seperti medan peperangan. Peperangan untuk membela dan mengharumkan nama bangsa, di tengah keterbatasan pemain dan pemain yang ia panggil pun tidak dikenal oleh orang banyak atau minim jam terbang, baik di klub maupun di level internasional.

Apakah salah untuk terus berharap bila dalam suatu saat nanti Indonesia akan berlaga di level dunia?

Aku termanggu diam.

Apa yang salah dengan Sepakbola Indonesia? Apakah sepakbola Indonesia pun terkena kutukan untuk menjadi juara kedua di level senior?

Kabar manis sering terdengar di level junior, dimana tim Indonesia berhasil juara di berbagai kompetisi, namun setelah itu tidak jelas mereka yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di kompetisi-kompetisi tersebut apa kabarnya. Pembibitan itu terkadang baru sampai ditabur lalu didiamkan begitu saja tanpa adanya perawatan, ada sebuah missing link yang harus dibenahi.

Di pundak pemuda ini memikul beban yang berat, beban untuk membuat rakyat Indonesia tersenyum dan bahagia melihat kemenangan yang mereka berikan di atas lapangan. Saat beban berat yang mereka pikul terasa berat, namun langkah kaki mereka tidak berat untuk berlari di atas lapangan untuk berlatih dan berjuang mencapai kemenangan. Teriakan dan nyanyian di tribun penonton membuat mereka dapat tersenyum dan beban berat yang mereka pikul terasa meringan berbaur ke seluruh sudut tempat.

Biarkanlah mereka terbang setinggi langit. Kita terus berdoa dan berharap mereka selalu kuat, ketika mereka jatuh dengan kekalahan, kita tidak meninggalkan mereka seorang diri dan menyalahkan kekalahan itu kepada mereka, tapi biarlah kita tetap berada di sisinya untuk memberikan dukungan kepada mereka hingga akhirnya kaki-kaki mereka yang mulai melemah dapat kembali kuat dan terus bangkit berlari sekuat tenaga.

Mereka adalah para pejuang-pejuang!

Aku tidak peduli mereka timnas senior atau junior dari berbagai level, yang aku pedulikan dan impikan adalah kemenangan mereka yang dapat menawarkan dahaga bangsa ini yang sedang kesusahan, atau membuat Ibu Pertiwi berhenti untuk menangis ketika melihat putranya berprestasi dan menorehkan sejarah dengan tinta emas yang membuat Ibu Pertiwi bangga.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s