bola

Red And White

Image

Aku menitikkan air mataku kembali beberapa minggu yang lalu, bukan karena cerita penebasan habis-habisan terhadap Garuda di dalam lapangan hijau tetapi lagi-lagi bagaimana keindahan yang disajikan dari suatu kota yang nun jauh disana. Rotterdam.

Aku sudah pernah menuliskan sebuah artikel bagaimana sebuah klub sepakbola menghargai dan memberikan bentuk apresiasi terhadap setiap orang yang berada disana; pemain, jajaran pelatih dan board, bahkan fans sekalipun ketika mereka meninggal. Aku sering membaca dan menikmati setiap video di youtube saat internet di rumahku masih tersambung, menikmati bahkan hatiku tergugah saat menyaksikannya.

Bagaimana stadion selalu penuh dengan supporter yang setia untuk mendukung baik itu dalam kondisi berat sekalipun mereka tetap hadir. Atau bagaimana saat klub mereka dihajar habis-habisan oleh rival dalam kompetisi mereka PSV saat itu, aku lupa dengan tepat berapa hasil akhirnya tetapi yang ku ingat saat itu PSV mencetak dua digit. Atau di saat kejayaan mereka dengan berpesta di kandang sendiri saat menjuarai UEFA CUP saat itu, begitu luar biasanya memiliki fans sebegitu loyalnya.

Bahkan ketika aku menikmati linimasaku di saat-saat ini, hal yang selalu membuat aku terpanah ialah kehadiran para supporter lengkap dengan flare dan smoke saat latihan di pre-season ini.

Dulu aku pernah bercerita tentang Coen Moulijn saat pemakamannya dan saat mengenang satu tahun meninggalnya sosok yang dicintai seantero kota Rotterdam ini. bagaimana di sepanjang sisi jalan Erasmus Bridge penuh dengan kehadiran Het Legioen yang menyambut rombongan mobil jenasah melewati mereka sambil menyalakan red flare, tangisan kesedihan menyelimuti mereka, atau saat pertandingan seremonial yang dilakukan untuk mengenang Moulijn bagaimana suasana stadion yang penuh seperti biasa namun terasa ada yang berbeda. Terutama saat sebelum pertandingan di mulai, ketika dari tengah lapangan foto Moulijn legenda Feyenoord dihadirkan dan ucapan perpisahan sambil mengenang beliau diucapkan, suasana di setiap sisi stadion pun menyala dengan kembang api dan ketika pertandingan akan segera dimulai, kembang api yang menyala mulai berubah menjadi red flare dan smoke yang menyala mulai dari tribun atas.

Aku pun pernah menonton salah satu video saat sebuah banner besar dibentangkan dengan gambar 5 orang, awalnya aku tidak menyadari maksud dari banner itu apa karena video tersebut merupakan kompilasi dari potongan aksi di dalam stadion dari Het Legioen dan ketika aku mencari-cari ternyata banner itu merupakan sosok di belakang layar Feyenoord yang meninggal dan dengan empat orang lainnya merupakan legenda Feyenoord.

Bagaimana klub dan supporter menghargai setiap jasa pemain, pelatih, supporter, atau siapa pun yang berada untuk memajukan Feyenoord. Setiap jerih payah yang mereka lakukan, takkan pernah lekang oleh waktu.

Belakangan ini yang terjadi dari sisi supporter mereka yang bernama Marck yang menderita kanker dan mendapatkan vonis dari dokter yang merawatnya umurnya hanya tinggal hitungan hari saja. Di hari-hari terakhirnya, ia mempunyai satu permohonan yaitu; menyaksikan klub sepakbola favoritnya untuk terakhir kalinya.

Marck hadir saat Feyenoord yang sedang mengadakan latihan terbuka dan dia bersama dengan anak dan temannya disediakan tempat khusus di dekat lapangan untuk menyaksikan secara dekat latihan klub kebanggannya tersebut. Kebanyakan dari supporter Feyenoord yang hadir menyaksikan mengetahui cerita tentang Marck, mereka membentangkan sebuah banner yang bergambar Marck, menyalakan green flare and smoke yang menjadi warna kesukaan dari Marck, dan menyanyikan You’ll Never Walk Alone untuk Marck.

Tepat di menit kedua belas. Seluruh pemain menghentikan latihan mereka dan berjalan ke arah Marck dan memberikan tepuk tangan sebagai dukungan dan bentuk apresiasi mereka terhadap Marck. Suasana haru pun terjadi, tidak hanya para pemain namun seisi stadion pun melakukan hal yang sama khusus untuk Marck. Marck yang saat itu datang dengan kaos hijau putih yang menjadi dengan bendera dari salah satu fan base Feyenoord pun menangis melihat begitu luar biasanya dukungan untuk dirinya, dia mengumpulkan seluruh tenaganya untuk dapat berdiri dari tempat ia berbaring yang dari rumah sakit, Marck berhasil mengumpulkan tenaganya dan berjalan membalas tepuk tangan para supporter dan senyum yang lebar terlintas di wajahnya, air mata kebahagiaan yang penuh rasa keharuan dengan apa yang terjadi saat ini jatuh membasahi pipinya.

Tidak sampai sana, Marck pun saat itu memimpin paduan chants dengan menyanyikan ‘I’am Feyenoord Till I Die’ sambil memegang dadanya dan mencium lambang Feyenoord yang berada di dadanya tersebut. Setelah itu gantian para Het Legioen menyanyikan ‘We Shall Not Be Moved’ dan berkali-kali pula Marck menitikkan air matanya.

Untuk Marck itu adalah hal yang paling luar biasa yang ia terima dan rasakan. Di akhir hidupnya, klub yang ia banggakan dan cintai memberikan sebuah bentuk dukungan untuk dirinya dan seisi stadion saat itu pun memberikan sebuah hal yang luar biasa bagi dirinya. Tepuk tangan, banner, flare and smoke yang berwarna hijau kesukaan Marck, dan chant diberikan khusus bagi dirinya. Sebuah senyuman yang ia bawa di akhir usianya dan tiga hari kemudian, Marck meninggal dunia. Permohonan terakhir dirinya yang sederhana dan diberikan secara luar biasa oleh Feyenoord dan Het Legioen yang hadir saat latihan terbuka saat itu.

Rotterdam berduka. Seperti sebelumnya yang pernah terjadi, iringan kendaraan jenasah disambut dengan ribuan Het Legioen yang memenuhi jalan saat itu. chants dan flare pun mengiringi saat memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum Marck.

Ketika sepakbola mengusik sisi terlemah untuk diriku, aku akan dibuat menangis oleh karenanya. Membacanya, menyaksikannya meski hanya lewat youtube itu membuat hatiku dapat bergetar.

Aku tidak terlalu mengerti mengenai sejarah Feyenoord dan aku pun tidak tahu mengapa bisa jatuh hati terhadap klub ini, tetapi merah dan putih itu seperti memanggilku untuk datang belajar mengenal klub ini lebih dalam lagi dan membuatku akhirnya menjatuhkan rasa cintaku terhadap klub ini. oleh karena Feyenoord, mau tidak mau aku harus belajar mengerti bahasa Belanda secara otodidak dan memperbaiki bahasa Inggrisku, karena semua berita yang sering keluar bahasa Belanda dan berkomunikasi dengan beberapa fan Feyenoord yang aku ikuti membuatku mau tidak mau mengutamakan Bahasa Inggrisku.

Merah putih, mungkin kalian banyak yang tidak mengenali klub yang aku cintai ini dan mungkin saja hanya sepersekian yang sama seperti aku mendukung klub ini.

Ah, begitu indahnya…

Sebuah cerita yang membuatku semakin terbuai dengan keindahannya. Red and White is Love.

Rest In Peace Rooie Marck!

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s