bola

Ayo Garuda Bentangkan Sayapmu!!

Sebuah pagelaran kehadiran klub sepakbola asal Inggris ditutup dengan kedatangan Chelsea dan benar-benar meluluh lantahkan tim jadi-jadian yang disebut All-Star tersebut. Sontak dalam beberapa minggu belakangan sepakbola Indonesia sering masuk ke dalam berbagai media di Inggris. Arsenal dan Chelsea yang menjadi pembuka dan penutup memberikan sebuah goresan yang dalam, membuat kita untuk tersadar bagaimana kondisi persepakbolaan kita yang kepayahan melawan klub jauh di atas kita meskipun dengan talenta-talenta terbaik dengan memberikan embel-embel All-Star atau Dream Team.

Apa pun hasilnya yang lalu semoga benar-benar ada dampak nyata yang positif dari pertandingan tersebut. Iya, samalah kaya yang dibilang sama ketum, beruntung mereka mau datang ke Indonesia.

***

“Sambutlah sang mentari di pagi hari,

Kicau burung bernyanyi di tanah ibu pertiwi,

Sejuknya udara pagi rasa damai di hati,

Hanya ada disini, rumahku tanah airku!” – Ku Tunggu Jandamu

Pagi itu aku tersadar dari khayalku ketika sebuah lagu tidak terlalu farmiliar bagi orang banyak dan band yang menyanyikan lagu itu pun sudah bubar oleh kesibukan mereka masing-masing. Sebuah lagu yang mampu menggugah semangatku kembali dan sebuah rasa cinta kepada tanah air ini dan sebuah lagu tersebut yang berjudul sama dengan judul dalam tulisan ini, Ayo Garuda Bentangkan Sayapmu!

Garuda yang dahulu begitu gagah untuk terbang tinggi perlahan mulai menua dan digerus jaman membuatnya semakin lemah untuk dapat terbang setinggi dulu. Garuda yang sekarang selalu membuat kita berekspektasi yang tinggi untuk terbang tinggi dan membawa harum bangsa ini yang selalu merindukan kejayaan masa lalunya.

Sebuah ekspektasi yang besar akan menimbulkan kekecewaan bila akhirnya tidak memuaskan dan mencapai target sesuai harapan. Kita masih terlalu sibuk dengan urusan kita masing-masing dan tidak jarang kita tidak terlalu mempedulikan sepakbola nasional itu sendiri, eh bukan kita peduli dan mencintai timnas Indonesianya kalau klub lokal sih engga terlalu menarik dan jarang mendapatkan perhatian. Giliran ada sebuah masalah baru kita lihat atau kita cuma geleng-geleng kepala melihat sebuah kejadian dengan pertanyaan di dalam kepala kita, ‘kok bisa sih terjadi kaya gitu?’

Aku memang menyukai sepakbola luar negeri, namun entah mengapa ada sebuah ketertarikan sendiri ketika ada sebuah perbincangan atau tulisan tentang sepakbola nasional kemungkinan besar aku akan memperhatikan atau membacanya. Dari sekian banyak mimpiku pun rasanya ingin datang ke stadion-stadion ketika sebuah pertandingan sepakbola sedang di gelar, bergabung bersama dengan para supporter yang mendukung klubnya dengan sebuah passion yang luar biasa.

Permasalahan di negeri ini bukan permasalahan yang mudah untuk mendapatkan jalan keluarnya, sudah turun menurun dan mendarah daging diwariskan permasalahan tersebut. Bahkan saking sudah turun menurunnya, kita sampai lupa apakah itu salah atau tidak karena semuanya telah dibuat menjadi bias dan ketika kita disadarkan bahwa itu salah kita kalang kabut.

Ketika rezim Nurdin Halid dipaksa turun oleh para supporter, di saat rezimnya dimana untuk kehidupan klub sepakbola pun dialirkan dana yang tidak kecil dari APBD dan nistanya dimana sebuah federasi pernah dijalankan lewat balik jeruji besi. Ketika rezim ini jatuh ada harapan yang besar yang mengelora se-antero negeri akan perubahan yang terjadi di sepakbola nasional ini, sama seperti ketika rezim orde baru akhirnya jatuh oleh mahasiswa dan melahirkan orde reformasi yang mana diharapkan lebih baik dari orde sebelumnya.

Ibarat sebuah drama sinetron yang melahirkan banyak sandiwara, mereka berlagak memainkan peran protagonis dan antagonis dimana beberapa pihak memainkannya dengan apik dan rapih. Bagaimana saat itu IPL yang digadang-gadang menjadi sebuah kompetisi profesional tanpa APBD digulirkan mendapatkan kecaman dan tentangan hingga dibilang kompetisi liar yang harus dibubarkan oleh penguasa saat itu, atau bagaimana tarik ulur tentang pencalonan AP dan GT yang menjadi daya tarik media untuk terus memberitakannya, dan akhirnya kita sama-sama mengetahui bahwa kedua tokoh ini tetap tidak bisa maju untuk mencalonkan diri menjadi ketum dan waketum.

Sebuah perpecahan itu akhirnya dapat menyatu di Solo dengan Konggres Luar Biasa yang melahirkan Djohar menjadi ketum selanjutnya. Cerita tentang perpecahan itu ternyata kembali berlanjut dengan indah, seperi orang yang diceritakan sedang pacaran yang sedang berantem lalu akhirnya putus. Namun, putus mereka menyisakan dendam pribadi tapi anehnya dilubuk hati salah satu pasangan ini tidak rela untuk pergi jauh meninggalkan pacarnya dan akhirnya pasangan ini dapat kembali bersatu oleh orang ketiga yang dengan kesoktahuannya mampu menyatukan kembali.

Saat para elit sibuk untuk mengurus tentang bagaimana mempertahankan kekuasaan dan merebut kembali tanah mereka yang terlepas, di saat itu pula masalah-masalah yang mendasar dan pokok terlupakan. Ketidakmampuan klub untuk bernapas dengan dana yang seadanya, tidak ada aliran dana dari pemerintah dan sedikitnya sponsor yang tertarik membuat aliran dana untuk mengaji pemain pun tersendat. Bahkan kejadian-kejadian mulai dari pemain luar yang bermain meminta sumbangan ke jalan-jalan untuk bisa pulang, hutang sana-sini untuk menyambung hidup, dan hingga akhirnya mencapai puncak ketika pemain menghembuskan napas terakhirnya jauh dari rumah, keluarga, dan tanah kelahirannya dengan kondisi yang memprihatinkan. Rasanya ketika mendapati berita seperti itu ada sebuah perasaan kemanusiaan yang mengusik lubuk hati paling dalam.

Permasalahan-permasalahan yang pernah terjadi ternyata belum menjadi pelajaran untuk mendewasakan atau setidaknya membuat tersadar. Atas nama sebuah rivalitas masih sering terjadi kerusuhan antar supporter atau tidak jarang supporter rusuh dengan warga.

Permasalahan tentang gaji pemain yang tak kunjung dibayarkan pun belum menemukan solusinya, bahkan ketika para pemain PSMS yang gajinya belum dibayarkan menuntut haknya dengan datang ke Jakarta dan yang mereka dapatkan ternyata sebuah hal yang menyakitkan dan di luar nalar manusia. Para pemain tersebut terancam terkena sangsi karena telah mengotori kolamnya sendiri, berteriak-teriak tentang suatu kebenaran dan menuntuk haknya malah dibungkam dengan sangsi. Agak aneh dan miris untuk kejadian demikian, apakah harus ada nyawa lagi yang menjadi korban untuk membuat tersadar?

Kembali lagi ke awal tentang pagelaran yang tersaji, bagaimana SUGBK penuh dengan riuh untuk mendukung klub sepakbola asal Inggris dan seandainya passion yang mereka hadirkan dalam mendukung klub yang jauh terbentang itu diberikan kepada Sang Garuda yang berjuang untuk tanah air tercinta ini. oke, itu baru tentang laga persahabatan dan kalau begitu kenapa tidak dihadirkan saat laga resmi Indonesia? Atau setidaknya hadir memenuhi stadion dan mendukung klub lokal dimana rasa bangga untuk mendukung hadir, karena kalau bukan kita yang  mendukung mereka, siapa lagi? Dengan hadir di dalam stadion dan membeli tiket resmi pun kita setidaknya dapat membantu kehidupan dari sepakbola nasional.

Ternyata, banyak juga permasalahan yang belum kunjung selesai… selama tawar menawar untuk kepentingan politik dan korupsi yang menjamur dan berakar kuat, selama itu kita mencoba realistis dengan perkembangan sepakbola nasional ini. semoga saja awan kelabu yang setia memayungi langit sepakbola Indonesia ini segera berlalu dengan hadirnya orang-orang yang berani seperti duet Jokowi-Ahok di Jakarta dan tentunya bakat terbaik seluruh penjuru nusantara tidak dipinggirkan atau disisihkan.

Dan semoga sebulan kemarin dengan kehadiran mereka membawa dampak yang positif untuk Indonesia. Terima kasih untuk mengajarkan kami menyadari sebagaimana jauhnya tertinggal kualitas permainan kami, biarlah pelajaran di lapangan yang berharga bagi pemain bagaimana dapat merasakan melawan pemain kelas dunia bisa diaplikasikan ke dalam permainan mereka. Semoga.

Terima kasih Ku Tunggu Jandamu yang memberikan inspirasi untuk menuliskan tulisan ini.

“Jiwa dan ragaku ada disini!

Ayo Merah Putih teruslah kau berkibar!

Indonesia… Tanah air beta…

Ayo Garuda bentangkan sayapmu!

Disini aku berdiri sampai kapan pun…

                                                        Ku kan tetap membela!”           

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s