bola

Berjalan ke depan menuju masa kelam (lagi).

Image

Entahlah apa yang sedang berada di pikiran saya ketika menuliskan ini, ketika pikiran terus dimanjakan dengan kapan kuliah lagi, kapan revisi naskah novel yang saya kerjakan selesai, kapan bisa terbit, dan kapan saya menyelesaikan naskah pertama saya yang hampir dua tahun belum selesai-selesai. Tapi, ketika pemikiran saya tertuju ke banyak hal itu, saya tertegun ketika mendapatkan SMS dari seorang teman saya yang mengajak saya datang ke GBK untuk membantu pemain PSMS yang sedang memperjuangkan haknya yang tak kunjung dibayar.

Harapan yang membumbung tinggi ketika di awal pergolakan yang meminta sebuah revolusi di tubuh PSSI dari tangan nurdin hingga akhirnya orang itu dan pasukannya berhasil digulingkan dari kekuasaannya. Dari Solo lah di mulai kembali awal dari segala harapan itu, kota Solo merupakan saksi sejarah dari kelahiran PSSI dan dari sana pula lah kembali harapan itu kembali setelah proses Kongres Luar Biasa yang melahirkan sebuah keputusan mengangkat Djohar Arifin dan dengan janji manisnya yang ingin memperbaiki prestasi dan kompetisi di tanah air.

Namun janji manis itu sekarang hanya menjadi janji manis belaka yang seperti para politisi ucapkan, saya tidak mengerti apakah kebenaran dari berita tentang dia mengadaikan komitmennya dengan sebuah mobil pajero merah benar atau tidak. Atau blunder yang dilakukan oleh menteri olahraga dan pemuda yang baru itu yang berakibat fatal seperti ini. semuanya sama yang seperti orang bijak katakan, kita hidup seperti di dalam lingkaran dan akan kembali ke pada titik yang pernah kita lalui lagi pada suatu saat, kita tidak pernah berjalan ke belakang, namun kita hanya berjalan di sebuah lingkaran dan kembali ke masa kelam itu lagi.

Sepertinya kita mempunyai penyakit yang sama, yaitu penyakit mudah lupa dengan apa yang baru terjadi. Lupa dengan kejadian bagaimana yang membuat kita pilu akan beberapa kejadian yang pernah terjadi sebelumnya, masalah itu belum selesai dan entah kapan akan selesai seperi tidak mengenal kata ujung dalam berbagai masalah itu.

Keprofesionalan yang didengungkan dengan menghentikan dana APBD atau APBN ke klub-klub ternyata belum membuat sepenuhnya klub menjadi mandiri dengan mencari dana sendiri, semua masih belajar dan sepakbola kita memang sedang bangkit kembali, sekarang mungkin sedang belajar untuk merangkak untuk dapat berdiri dan berjalan sendiri. Dari penghentian dana itu membuat kita sering mendengar bahwa klub belum membayar hak-hak pemain, sampai kasus Diego merebak harum ke permukaan yang menjadi liputan baik media lokal maupun internasional untuk meliputnya. Dari kasus itu, Diego meninggal tragis di tanah perantauan seorang diri dan sebuah surat tentang permohonan dirinya yang mengikhlaskan gajinya dan hanya meminta tiket pesawat untuk pulang ke negara asalnya pun tidak dapat dia peroleh hingga napasnya berhenti.

Setelah kematian Diego, ternyata banyak pemain sepakbola yang mengalami nasib yang sama dengan dirinya, mereka bermain sepakbola dan mereka seperti para pekerja sosial yang bermain tanpa pamrih. Mereka ingin pulang dan mereka ingin haknya terpenuhi. Bahkan APPI sampai memberitakan bila ternyata baik klub yang bermain di liga yang berbeda ternyata memiliki rentangan hutang terhadap pemain yang lumayan dalam hitungan bulanan dan bahkan sampai hampir mencapai setahun. Semua alasannya pun hampir sama, klub tidak memiliki cukup uang untuk membayarnya.

Pembinaan usia muda pun yang awalnya digiatkan kembali, terancam kembali tidak jelas nasibnya akan bagaimana kelak. Indonesia memiliki ribuan atau bahkan jutaan talenta, berlian-berlian yang siap di asah untuk membawa sepakbola Indonesia kembali berprestasi setidaknya di regional Asia Tenggara. Sepertinya, kita terlalu menyukai berbagai hal yang cepat dan instan untuk memperoleh prestasi, naturalisasi menjadi jawaban dari hal yang instan tersebut, tidak ada yang salah untuk hal ini, namun kenapa kita percaya dengan anak-anak muda di negeri ini?

Bagaimana kabar dari pemain yang bermain di tingkat usia U-19 yang menorehkan prestasi bagus? Bagaimana kabarnya pemain yang terbang dan berlatih di Uruguay? Atau bagaimana kabarnya anak-anak yang menjuarai Milan Junior Camp? Atau pemain yang bermain di kompetisi antar umur yang pernah digulirkan?

Kita mempunyai anak-anak muda yang penuh dengan talenta, namun mereka yang memiliki mimpi untuk menjadi pemain profesional di kemudian harinya, terbentur dengan realita yang ada kehidupan keras menjadi pemain sepakbola di tanah air ini. orangtua mungkin akan menyarankan kepada anaknya, buat apa menjadi pemain sepakbola? Mau dapat duit darimana? Dan akhirnya mereka berhenti dan membanting stir, mengantungkan impian mereka, dan menjadikan sepakbola menjadi sekedar hobby mereka kelak bukan menjadi kehidupan mereka.

Saya adalah seorang pemimpi, namun saya jamin saya bukanlah satu-satunya orang yang bermimpi melihat Indonesia bermain di Piala Dunia, itu mimpi dan harapan paling tinggi saya. sekarang saya menyadari sebaiknya berharap dan bermimpi itu dari hal yang terkecil bahkan itu lebih besar dari bermain di Piala Dunia sekalipun, melihat pengurusnya benar-benar mengurus sepakbola dan bukan mengurus titipan atau pesanan politik yang terlalu harum untuk mereka.

Mafia itu memang nyata dan mengerayangi persepakbolaan Indonesia.

Hidup ini memang penuh dengan sandiwara dan keputusan-keputusan yang harus dipilih, saya diperhadapkan dengan pilihan untuk menentukan perkuliahan dimana atau memilih dimana saya meletakkan naskah saya kelak. Dan kita sering bersandiwara menanggapi yang sedang terjadi dengan kepura-puraan semuanya baik-baik saja, padahal keadaan itu terbalik dari sesungguhnya.

Mereka kembali! Mereka kembali!

Mimpi buruk itu ternyata menjadi nyata, ketika orang-orang lama dari rezim yang lama kembali masuk dan berkuasa lagi, dan kita berpura-pura seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa dan kondisinya akan baik-baik saja.

Saya tersengat ketika mendengar ucapan dari dua petinggi PSSI yang mengatakan tentang nasib dari pemain PSMS yang mencoba bersuara untuk menuntuk haknya tersebut. Memberikan sangsi terhadap pemain yang melawan dan mengatakan kalau mereka ingin haknya terpenuhi, mereka datang jauh dari Medan dan setelah di Jakarta ternyata nasib mereka terluntang lantung tidak jelas, bahkan parahnya lagi akan dikenakan sangsi dari Komdis karena telah mengotori kolamnya sendiri! Atau bagaimana ucapan yang diucapkan Jokdri, jangan menyamakan buruh dengan pemain sepakbola! Saya pun menjadi bingung, mereka itu pemain sepakbola atau menjadi volunteer? Atau, itu liga amatir atau profesional?

Apakah mereka yang tidak terbayarkan gajinya harus merenggang napasnya dulu baru dibayarkan? Haruskah rumor tentang mafia dan pengaturan skor itu terus dihembuskan? Haruskah selalu terjadi tindakan anarkis sesama supporter terjadi atas nama rivalitas? Akankah lapangan sepakbola menjadi arena bela diri ketika ada pertandingan lagi?

Mendengar media internasional memberitakan prestasi tentang sepakbola Indonesia merupakan seperti air di tengah gurun yang kering dan tandus, bila ada berita itu kita seakan melepaskan dahaga akan kekeringan yang sedang terjadi dengan berita prestasi.

Saya tidak mengerti dengan pasti dengan macam-macam pelanggaran yang dilakukan dengan denda-dendanya. Atau saya terlalu naif dan sok tahu dengan tulisan saya ini? entahlah, saya hanya sedang merasakan keresahan ini yang bergejolak di dalam diri ini.

Kita. Mimpi itu ada di tangan kita bersama. Kerinduan kita pun sama, melihat Indonesia kembali berprestasi bukannya sudah biasa untuk tidak menang atau bahagia dengan menjadi juara dua. Mengubah masa kelam itu yang sedang kembali mengancam itu dengan tatapan semangat penuh harapan kalau masa yang cerah itu akan segera datang, masih ada langit biru di balik awan gelap, masih ada harapan di masa kelam sekali pun.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s