bola

3 Idiots

Image

Salah satu film India yang saya sukai. Bercerita tentang persahabatan yang dianggap bodoh oleh banyak orang di kampusnya, tapi ternyata itu bukan hanya sebuah fiksi belaka karena terjadi pada kehidupan nyata. Iya, PSSI, KPSI, dan Menpora menjadi 3 orang dalam tokoh tersebut. Entah, saya tidak mempedulikan mana dari ketiga orang tersebut yang ternyata adalah orang yang benar-benar pintar dan mempunyai solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang membelenggu persepakbolaan Indonesia.

Mungkin ada banyak orang yang tidak setuju ketika saya membicarakan hal yang di anggap sakral ini, tapi pada kenyataannya sekarang bagaimana nasib sepakbola nasional ada di tangan ketiga orang tersebut. Mau maju ke depan atau harus kembali terjatuh ke dalam lobang yang sama.

Melalui acara di sebuah stasiun televisi swasta yang menemukan kedua orang yang sedang berperkara di satu meja dengan tambahan seorang menteri yang terlihat memahami isi pembicaraan tersebut. Lalu, berlanjut dengan undangan seorang menteri tersebut untuk mempertemukan dan mencari solusi dari kericuhan yang terjadi. Hasilnya apa? Iya, seperti sudah banyak diketahui kalau hasilnya seperti pembagian kue di kelompok-kelompok tersebut.

Satu tahun lagi akan terjadi sebuah pesta demokrasi terbesar di negara ini, dan para elit politik harus pintar mengunakan alat-alat yang dapat dijangkau untuk menarik massa sebanyak-banyaknya. Pilihan itu tertuju kepada SEPAKBOLA! Olahraga yang paling digemari dan digandungri oleh seluruh lapisan masyarakat. Revolusi yang didengungkan dalam beberapa tahun belakangan ini seakan kembali tertidur dan bergerak mundur.

Salah siapa? Saya tidak berani menjawab hal tersebut, karena bukan ranah saya untuk menjawab hal tersebut.

Harapan… lagi-lagi harus digantungkan dengan penuh ketidakpastian kepada orang-orang yang kita tidak yakini, bahkan kita anggap orang-orang bodoh. PSSI dengan porosnya berada di Djohar pun yang diharapkan membawa sepakbola Indonesia maju pun ternyata belum memberikan dampak apa-apa, malah bergerak menurun. KPSI dengan porosnya LNM sangat vokal untuk menentang keputusan dari PSSI dan menganggap mereka adalah federasi yang sah, kelompok yang terlalu naif untuk mempertahankan ego dan kepentingan mereka dan mengorbankan banyak mimpi rakyatnya! Dan Menpora yang baru dengan kesoktahuannya, seakan dia paham dan melakukan tindakan yang benar, nyatanya?

Sebenarnya PSSI di era setelah kegelapan itu mulai menemukan titik terang dan jalan keluar. Berbagai persiapan untuk pembinaan usia muda di rancang dengan baik, tapi lagi-lagi jalan itu harus kembali berliku sejak pembelotan beberapa orang anggota exco yang dipimpin LNM untuk membuat kongres tandingan dan federasi tandingan. Semua yang harusnya berjalan dengan baik, perlahan tapi pasti menjadi tidak jelas dan penuh dengan teka-teki.

Mulai melakukan pertandingan-pertandingan persahabatan dengan timnas negara lain, mengikuti kompetisi yang dilakukan di ajang internasional. Dengan pemain yang seadanya memberikan sebuah harapan akan sepakbola Indonesia memang cerah di masa depan. Pemain yang minim pengalaman dan jam terbang menjadi bagian penting timnas Indonesia, mereka berjuang untuk Indonesia, bukan untuk PSSI atau KPSI tapi mereka membawa nama Indonesia dan tetes keringat mereka didedikasikan untuk Indonesia. Sangat disayangkan ketika pemain-pemain terbaik di Indonesia harus menunda mimpinya karena dilarang oleh liga dan klub mereka, padahal setiap mimpi pemain itu sama yaitu membela Merah Putih. Hah… apakah semuanya tidak cukup yang kami korbankan?

Tiga orang ini akhirnya menemukan titik terang, ketika pembagiannya sesuai dengan porsi yang mereka inginkan. Seakan mendapatkan angin segar ketika mendengar bahwa mereka telah berdamai, tapi nyatanya ada pembagian jatah di dalamnya. Ketua PSSI kembali menghidupkan BTN dan BTN merupakan alat yang direstui untuk ‘damai’ ini. sehingga dalam klub-klub yang berada di bawah naungan KPSI mengijinkan untuk pemain yang di panggil untuk bergabung dengan timnas yang dibentuk oleh BTN.

Iya, politik sudah kembali untuk mengerogoti tubuh PSSI yang masih rentan dan lemah dengan segala serangan yang terjadi dari luar. Bukan serangan dari luar, namun kebusukan pun terjadi di dalamnya. Busuk..busuk… orang-orang yang berada di luar pun dibutakan dengan sandiwara yang sedang mereka lakukan.

Sinetron. Insiprasi mereka dari sinetron-sinetron yang bertebaran di layar kaca. Alur cerita yang sebenarnya mudah ditebak namun selalu dibuat berkelok-kelok hingga terasa panjang dan terlalu bertele-tele padahal intinya sama. Di mulai dari pertemuan 3 orang itu, skenario disiapkan dan segala yang mendukung pun disiapkan. Akhirnya terjadilah sinetron yang membosankan itu terjadi antara 3 pihak yang bersepakat tersebut.

Karena terlalu lama untuk hidup dalam sangkar emas dan dimanjakan dengan tawaran politik, sehingga ketika dibebaskan dari sangkar emas akan selalu merindukan kenangan ketika berada dalam sangkar emas itu, bukannya terbang tinggi malah terbang rendah lalu kembali. Tertanam kuat dalam benak setiap orang yang berada di jajaran kepengurusan itu, mereka pasti memiliki kemampuan untuk mengurus dan menyelesaikan setiap permasalahan tapi mereka mungkin memiliki mental seperti burung yang hidup dalam sangkar emas tersebut.

Silahkan menikmati sandiwara yang akan terpapar di layar kaca dan setiap media sosial yang disuguhkan oleh setiap 3 pihak tersebut. Kalau di India ada film yang bernama 3 Idiots, kalau di Indonesia ada ….

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s