bola

Save Our Soccer and Dream

Seseorang tak dapat hidup tanpa mimpi dan harapan. – NN

17297_large

Perang dan kemiskinan sering menjadi alasan suatu negara untuk dapat mencapai prestasi dalam sepakbola. Alasan itulah yang mereka jadikan untuk menjadi pelecut semangat mereka, karena mereka menyadari hanya lewat sepakbola mereka dapat membuat bangga dan menyatukan bangsa mereka.

Sebuah olahraga yang selalu dinantikan oleh jutaan rakyat. Rakyat yang selalu merindukan prestasi dari ajang olahraga ini. jutaan rakyat selalu merindukan catatan emas itu terulang kembali, namun yang terjadi sekarang? Politik menghancurkan semua mimpi dan harapan.

“Sebuah bangsa yang terpecah dari dalam, tidak akan pernah tegak berdiri.” – NN

            Sekarang federasi terbelah menjadi dua, kedua belah pihak sama-sama mengaku bahwa merekalah yang sah dan resmi. Perpecahan tersebut membuat sepakbola nasional seakan berada kembali di titik nadir. Mati! Moral mereka! Mimpi jutaan orang direnggut hanya karena kepentingan yang menguasai mereka.

Di hajar 10-0, tak lolos dari fase grup, gaji pemain yang tak di bayar hingga berbulan-bulan, hingga pemain asing merenggang nyawa di Indonesia karena urusan gaji yang tak dibayar. Siapa yang salah? PSSI atau KPSI? Semuanya salah.

Euforia yang baru kembali meningkat di AFF 2010 itu kembali hancur berantakan. Para pedagang yang menjual atribut tentang Timnas Indonesia lesu. Stadion mulai kembali sepi. Namun, semuanya diam. Semuanya tak bergeming. Pemain, pelatih, dan supporter hanya menjadi korban dari keributan yang terjadi di atas.

Kembalikan mimpi kami yang telah di renggut secara paksa! Kami rindu menikmati para talenta terbaik Indonesia bermain di atas rumput hijau! Hentikan kisruh yang sedang terjadi ini!

Mimpi kita semua sama, yaitu Sang Garuda terbang tinggi untuk meraih setiap prestasi yang sudah lama kering ini. tidak ada satupun pemain sepakbola yang tidak pernah berharap dan bermimpi untuk membela negaranya, tapi kisruh ini? mimpi mereka di curi, mereka tidak diijinkan untuk membela negara oleh klub yang menafkahi mereka. Alasan demi alasan klub layangkan, padahal alasan mereka basi yaitu perintah dari atasan mereka yang melarang untuk setiap klub tidak mengijinkan pemain yang dipanggil untuk membela negara. Kebanggaan mengenakan jersey Merah Putih dengan lambang Garuda di dada mereka digadaikan untuk alasan ekonomi.

Tidak sampai di sana, bahkan banyak orang yang sering berkata, ‘Ah ini kan timnasnya PSSI.’, ‘Coba timnasnya KPSI yang main pasti bisa menang.’. padahal mereka yang bermain di atas lapangan yang bersimbah keringat hanya untuk satu, INDONESIA. Yang ada hanyalah Timnas Indonesia, bukan timnas PSSI atau timnas KPSI.

Revolusi itu belum selesai! Revolusi itu masih dan akan terjadi! Sekarang saatnya untuk kembali untuk menyelamatkan mimpi-mimpi seluruh rakyat Indonesia, kiranya senyuman dan tawa mereka para penikmat sepakbola dapat kembali. Kita semua telah rindu untuk melihat timnas Indonesia kembali mengangkat piala dan berprestasi bukan hanya di ajang ASEAN, tapi di ASIA bahkan dunia.

Berdamailah dan bersatulah untuk kepentingan bangsa Indonesia bukan untuk kepentingan orang-orang yang ingin berkuasa dengan mengunakan sepakbola menjadi kendaraan politiknya. Saya mengutip kata-kata yang sangat terkenal, Football is for you and me, not for f*cking industry.

Mereka yang berkuasa, ramai-ramai untuk berebutan tempat untuk tampil di depan layar kaca. Mengumbar janji dan bersandiwara layaknya para politikus. Bersikukuh dengan pendapat mereka, ada yang mengatakan legal atas nama FIFA dan AFC, yang lainnya mengatakan legal karena memiliki jumlah suara di Solo. Tapi, keduanya sama-sama tidak mempedulikan rakyat yang telah rindu prestasi dari sepakbola.

Hanya ada beberapa pemain yang cerdas dan mereka ingin untuk kisruh ini segera selesai dan segala masalah pelik ini dapat diatasi dengan segera. Belakangan ini mungkin publik di buat terhenyak dengan pengakuan dari Irfan Bachdim yang mengakui, bila dia tidak di gaji selama 6 atau 7 bulan oleh klub lamanya sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan karirnya di Thailand. Klub yang dibawah naungan kedua belah pihak yang saling mengklaim mereka terbaik, mereka profesional, ternyata… mereka sama-sama memiliki tunggakan gaji terhadap pemain.

Lagi-lagi wasit yang selalu dijadikan kambing hitam bila kalah. Kadang, tidak jarang mereka diamuk oleh para pemain sampai menjadi bulan-bulanan para supporter yang kecewa. Mungkin pekerjaan yang paling menanggung resiko besar di Indonesia, wasit dapat masuk dalam kategori tersebut. Dengan pendapatan yang tidak sebesar dari pemain tapi selalu menanggung resiko yang besar dalam pekerjaannya.

Sepakbola itu bukan untuk saling memecah, tapi sepakbola itu gunanya untuk menyatukan. Tidak peduli dengan apa agama, ras, dan warna kulit. Kita dapat saling memeluk, berteriak, menangis, dan bahagia bersama ketika Indonesia sedang bermain. Kita sama-sama menggemakan seisi stadion ketika Sang Merah Putih dikibarkan dan Indonesia Raya dikumandangkan.

Sepakbola itu memberikan kita mimpi dan harapan. Mimpi bila suatu hari nanti, Indonesia dapat pentas di Piala Dunia. Indonesia dapat juara AFF CUP, Indonesia dapat kembali pentas di ASIA CUP. Dan harapan itu, bukanlah suatu harapan yang kosong. Tapi percayalah dengan harapan itu, meski terlihat sulit tapi percayalah dengan harapan itu.

Teruslah untuk bermimpi bila kisruh ini akan segera berakhir dan berharaplah bila apa yang kita impikan itu dapat menjadi nyata. Selamatkan mimpi-mimpi kami. Tolong, kembalikan mimpi kami yang sangat sederhana ini.

Melihat satu Federasi. Melihat satu Timnas. Melihat satu liga. Melihat kapten Timnas Indonesia mengangkat sebuah piala. Melihat Timnas Indonesia kembali menorehkan tinta emas dalam buku sejarah.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s