bola

Aku dan Sepakbola

Mungkin cinta itu hadir karena memang sudah ditakdirkan untuk mencintai. Sama seperti gue dan sepakbola, iya takdirlah yang mempertemukan gue dengan sepakbola, lalu gue jatuh cinta dengan sepakbola ini. namun, sayangnya gue hanya dapat menikmati sepakbola itu dan menarikan jari jemari gue di atas keyboard sebagai bentuk kecintaan gue terhadap sepakbola. Gue suka iri dengan orang-orang yang dapat bermain futsal ataupun sepakbola, sedangkan gue hanya sebagai pelengkap dan penikmat keindahan permainan dari sisi lapangan.

Dulu… waktu gue masih kecil, gue jago. Berbagai posisi gue mainkan, mulai dari bek, kiper, hingga menjadi gelandang. Tapi semuanya masa itu telah usai, bahkan sekarang gue sudah sangat jarang memainkan si kulit bundar. Waktu SMA, gue pernah mengikuti ekskul futsal tapi sayangnya kami tak berjodoh, hanya berapa kali latihan gue memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Alasannya sangat klasik, yaitu malas dan gue pun saat itu lebih tertarik dengan organisasi.

Bahkan kata nyokap gue, sewaktu gue sedang di dalam kandungan. Nyokap gue berkata, kalau sekeluarga itu pernah nonton ke GBK untuk nonton PSMS. Dan hasilnya, iya anaknya menjadi bagian yang mencintai sepakbola. Ngomong-ngomong soal GBK, pertama kali gue datang kesana bukan untuk menonton sepakbola tapi untuk mengantar abang gue yang mau tes apa gue lupa, dan gue merasakan atmosfer yang luar biasa disana. Pertama kali nonton sepakbola di GBK, baru-baru ini saat PSMS sedang bertandang ke Jakarta untuk melawan Persija. Itu pertama kalinya gue merasakan menjadi supporter asli yang bernyanyi untuk klubnya yang sedang bertanding di atas lapangan secara langsung! Bukan cuma di layar kaca! Hasilnya dari sana, gue ketagihan dan itu seperti candu. Gue pengen kembali kesana lagi dan lagi, menyaksikan pertandingan secara langsung, namun semuanya itu sekarang masih menjadi harap. Iya, persoalannya hanyalah soal biaya. Gue, pengen untuk datang ke stadion dengan uang sendiri, karena ketika gue meminta pun pasti akan ditanya untuk apa nonton langsung? Gue pun rindu untuk dapat menyaksikan timnas Indonesia saat bertanding secara langsung bersama dengan puluhan ribu orang mendukung dari atas tribun penonton.

Sama seperti anak-anak kecil yang sok tahu tentang sepakbola. Gue pun tak luput, karena saking pengennya punya jersey klub, gue asal coret aja nomor punggung dan nama pemain di satu kaos main gue. Nama yang dulu gue tulis ada Zidane, dia adalah pemain yang menakjubkan sewaktu masih di Juventus. Namun, di sisi yang lainnya gue dipertemukan dengan Dennis Bergkamp dengan kartu-kartu pemain bola yang gue pajang di dalam lemari buku gue sampai sekarang. Setelah itu, gue tidak terlalu banyak tau dengan pemain itu, karena di televisi pun hanya ada liga Italia dan gue dikasih kaos bola dengan lambang singa yang menurut gue malah lebih mirip sapi yang sedang menyusui. Gue engga diijinin untuk nonton bola, karena berbagai alasan dan setiap malam minggu biasanya gue kumpul untuk main dengan teman-teman gue. Gue tetap menikmati yang namanya piala dunia ’98 dan 2002, sama piala eropa. Bahkan di piala eropa gue sampai tergila-gila dengan suatu negara yang bernama Latvia, suatu negara yang tidak diperhitungkan tapi sanggup membuat kejutan di ajang tersebut.

Perkenalan dengan sepakbola itu mulai memasuki tahap yang lebih dekat lagi, saat gue berkenalan dengan sebuah game yang bernama CM4. Di sini, gue mulai mengenal dengan yang namanya EPL. Dari permainan inilah, gue mulai gonta-ganti klub yang gue suka tergantung gue melatih klub apa saat itu. jauh sebelum itu, gue dikenalkan dengan berbagai tentang sepakbola oleh saudara gue dan dialah yang mengenalkan gue dengan Arsenal dan Arsene Wenger. Dia bertanya kepada gue, “Siapa nama pelatih yang klubnya hampir sama dengan nama dia?”, gue hanya mengeleng karena tidak tau. Dia berkata, “Arsene Wenger, yang ngelatih Arsenal, bahkan sampai ada yang bilang Arsenal Wenger.”. gue pun selalu membeli yang namanya Soccer tiap minggunya, hingga gue mengenal istilah KoloSol dari Kolo Toure dan Sol yang menjadi bak dinding yang tangguh untuk Arsenal.

Iya, mulai dari sanalah gue mulai demen dengan Arsenal, hanya membaca dari tabloid tersebut. Namun, gue hanya sekedar demen saat itu. karena gue saat itu jatuh cinta dengan klub merah hitam asal Italia. Milan! Gue suka dengan klub ini, karena Nesta dan Maldini. Gue dulu suka bermain sebagai bek hanya karena gue mengidolai kedua pemain ini. namun, lagi-lagi gue hanya mengikuti dari koran, karena dulu itu masih di monopoli siaran televisi oleh orang rumah untuk di tonton.hehe tapi, sama kaya cintanya para remaja yang labil dan sering berubah, tercatat gue pernah suka yang namanya Juventus dan Liverpool. Karena alasan mereka saat itu juara. Iya, karena saat mendukung klub yang juara itu kayaknya bangga banget!

Gue menonton siaran liga inggris itu waktu Liverpool lawan Chelsea. Namun, seiring berjalannya waktu cinta gue terhadap Liverpool pun memudar dan gue kembali ke cinta lama gue dan benar-benar memantapkan cinta gue terhadap klub ini untuk selamanya. Arsenal. Mulai dari yang hanya memendam cintanya diam-diam, terus mengikuti perkembangan klub ini, dan diam-diam mendoakan agar klub ini selalu juara. Akhirnya menjadi terang-terangan. Mengakui bila cinta terhadap Arsenal.

Kenapa malah dukung Arsenal? Entahlah, gue pun engga mengerti kenapa gue mencintai klub ini. apa mungkin ini yang namanya jodoh? Mungkin ini yang di sebut dengan takdir! Samalah kaya perjalanan cinta seseorang yang terus mencari siapa jodohnya, dan akhirnya takdirlah yang mempertemukan cintanya.

Namun, selain Arsenal gue pun selalu mendukung Fiorentina dan Feyenoord, jangan bertanya kepada gue alasannya mengapa. Karena gue pun akan menjawab entah. Kalau soal Fiorentina gue mulai suka karena unik, berwarna ungu. Dan semakin gue mendalami gue semakin jatuh cinta setiap harinya terhadap klub ini, lalu ke Feyenoord. Awalnya gue hanya menyukai kota Rotterdam, semuanya itu karena pelajaran IPS waktu SD yang mengatakan kalau Rotterdam itu adalah kota pelabuhan yang indah. Lalu, gue mencarilah klub apa yang ada di Rotterdam dan gue menemukan Feyenoord Rotterdam. Jujur, gue kesulitan sendiri saat mencari tau tentang Feyenoord, karena sangat jarang menemukan beritanya dengan bahasa Inggris dan orang-orang di Indonesia pun jarang yang dukung klub ini. bahkan ketika gue berkenalan dengan seseorang di suatu forum, dia nanya ke gue, “Broer u kenapa suka dengan Feyenoord?” gue, “Karena gue suka kotanya.” Dia, “U pernah ke Rotterdam?” gue pun kaget ketika mendapatkan respon  dia, “Engga pernah, kenapa memangnya?” dia jawab, “Karena rata-rata yang suka sama Feyenoord karena kotanya itu pernah kesana.”. gue mengaminkan dalam hati, iya suatu saat gue bakal kesana dan menyaksikan Feyenoord bertanding secara langsung di De Kuip.

Perjalanan cinta gue ketika mendukung suatu timnas negara lain pun berubah, mulai pernah suka dengan Latvia hingga menetap di Jerman namun terbelah dengan Belanda. Iya, tradisi orang batak ketika mendukung negara lain bertanding pasti akan mayoritasnya mendukung Jerman, alasannya simpel. Karena, Jerman banyak membantu orang batak dan karena penginjil asal Jermanlah yang membuat banyak orang batak bertobat. Namun setiap kali mendukung Jerman, gue dalam hati selalu mendukung Belanda. Gue ingat, waktu pertama kalinya nobar final dunia 2010, saat itu generasi pertama Belanda yang berhasil menembus final piala dunia. Namun, kenyataannya menyakitkan. Belanda harus takluk. Piala eropa yang lalu, akhirnya gue menetapkan pilihan gue akan mendukung Belanda. Namun, badai cobaan menguji iman gue terlalu kencang, Belanda harus pulang duluan dengan tanpa mendapatkan satu point.

Gue mungkin bukan orang yang jago untuk memainkan kulit bundar di atas lapangan, namun gue mempunyai lapangan sendiri untuk menunjukan kecintaan gue terhadap sepakbola. Melalui medio tulisan gue menari-narikan jari jemari gue di atas keyboard dan menghasilkan tulisan yang bermanfaat.

Gue pun termaksud dalam golongan penikmat sepakbola, gue selalu menyukai apa yang ada di dalam sepakbola itu. ada banyak impian, harapan, kepedulian, drama, dan macam-macamnya. Sepakbola itu mengajarkan gue cara mencintai tanpa syarat. Menikmati sepakbola pun menikmati bagian-bagian yang terjadi di dalamnya. Menikmati sepakbola bukan hanya harus mencintai satu klub dan tidak peduli dengan klub lain, nikmatilah sepakbola itu dan cintailah sepakbola. Akan banyak yang kita dapat kalau mengikuti perkembangan dari klub lain atau negara lain.

Menikmati sepakbola itu bukan soal melulu tentang trophy, pemain, pelatih dan sejarahnya, tapi menikmati sepakbola itu ya nikmati saja. Sepakbola adalah hiburan yang murah, sepakbola adalah alat untuk kita mempunyai harapan dan impian. Sepakbola adalah pemersatu. Sepakbola adalah bagian dari cinta saya.

Mungkin orang lain akan mengatakan bahwa saya bodoh, namun iya inilah saya. Dan saya hanyalah supporter bodoh yang menyenangi, mencandui, dan menikmati sepakbola itu.

Awas, sepakbola dapat membuatmu kecanduan. J

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s