arsenal

Arsenal 4.

She wore a yellow ribbon..

 

“(What did she wear?)”
“She wore! She wore! She wore a yellow ribbon!”
“She wore a yellow ribbon in the merry month of May!”
“And when! I asked! Oh why she wore that ribbon!”
“She said its for the Arsenal and we’re going to Wembley!”
“Wembley! Wembley!”
“We’re the famous Arsenal and we’re going Wembley”

Sebuah chants yang menurut gue penuh dengan arti, mengapa? Karena dalam chants ini memiliki arti yang dalam dan tentang kesetiaan untuk Arsenal. Dari beberapa kali obrolan dengan seseorang gue dikasih tau, kalau keadaan saat itu hampir sama seperti sekarang. Asal muasal chants ini disadur dari lagu Tie A Yellow Ribbon, jadi dulu tuh pas jaman perang, banyak prajurit yang harus meninggalkan istri ataupun pacarnya untuk ke medan perang, dan sebagai bukti tanda kesetiaan kekasihnya, prajurit ini meminta mereka mengikat pita kuning sampai pacarnya ini kembali dari medan perang.

Nah, jadi sekitar tahun 70an, Arsenal masuk ke Final FA melawan Liverpool. Entah gimana, saat itu Arsenal mengenakan jersey berwarna kuning. Waktu itu ada salah satu Goonerette yang mulai menyanyikan lagu ini sebagai tanda kesetiaannya kepada Arsenal.

“Dia chants buat nunjukin bahwa biarpun kalah, fans Arsenal cewek tetep setia nunggu Arsenal menang dan enggak bakal pindah suka klub lain” – Santo

Dan secara ajaib permainan Arsenal langsung seperti mendapatkan tenaga yang luar biasa dan berhasil untuk membawa pulang  piala FA saat itu ke London. Jadi maksud dari chants She Wore A Yellow Ribbon adalah, tentang kesetiaan dan cuma yang setia yang bakalan ada buat Arsenal🙂

Oke, itu adalah gambaran singkat tentang chants ini. ini gue ambil dari hasil ceramah di twitter oleh para sepuh dua tahun yang lalu. Sekarang doi, entah kemana tapi sumpah gue merindukan ceramahannya setiap malam dan entah kenapa meskipun banyak akun yang mengatasnamakan Arsenal dan sering mengadakan kultwitt tentang Arsenal, tapi tidak ada yang bisa mengantikan dirinya. Oh, we miss you!

Hanya yang setia yang bakalan ada buat Arsenal. Kalimat sederhana ini merasuk secara perlahan, merasuk ke dalam setiap sendi di otak gue, sambil mendengarkan chants di atas di ulang-ulang.

Gue yakin, kita semua rindu melihat Arsenal kembali juara, Arsenal yang menjadi gangguan bagi klub besar, Arsenal yang mengincar piala bukan hanya empat besar. Gue ngerti, karena gue pun merasakan demikian. Gue yang baru menjadi gooners pun merasa kalau Arsenal yang sekarang benar-benar beda, bukan cuma Arsenal, bahkan Arsene pun beda. Entahlah apakah ini ada hubungannya dengan tuntutan dari board atau memang gimana, Arsene yang sekarang sangat percaya dengan kemampuan pemain mudanya, pemain yang mempunyai bakat besar, pemain yang selalu angin-anginan, pemain yang selalu merindukan meja perawatan. Dan selalu berkata “Our Squad is enough strong.”, lalu setelah itu hancur lebur dan kembali menyalahkan usia yang masih muda dan juga masalah cedera yang terus menghantui Arsenal.

Di saat musim transfer di buka, sebenarnya adalah waktu yang tepat untuk menguatkan tim, tapi apa yang terjadi? Hingga tanggal 25 pun masih belum ada tanda-tanda pemain yang datang, bahkan target satu per satu mulai hilang. Melepas para pemain yang tidak memiliki kontribusi yang besar, merupakan salah satu hal yang dapat diapresiasi, namun masalahnya setelah melepas pemain tidak ada pemain yang didatangkan.

Masih ada dua gelar yang dapat di bawa untuk mengisi kembali rak piala di Emirates Stadium, UCL dan FA. Perjalanan masih sangat jauh, bahkan masih sangat terjal. Tapi semuanya akan mungkin terjadi bila pemain kembali menemukan passion dan kebanggaan mereka bermain, Jenkinson dan Jack merupakan pemain yang selalu totalitas saat bermain. Karena mereka adalah seorang gooner, jadi wajar bila seorang fans Arsenal, akan bermain total saat membela klub kebanggannya. Tapi semua itu masih dapat menjadi kenyataan, bukan hanya sebagai angan-angan kosong. Mungkin piala FA Cup dapat menjadi penawar kerinduan dan membuka rasa haus akan piala di tubuh Arsenal.

Jalan panjang. Tapi semuanya masih dapat terjadi. Karena tidak ada yang tidak mungkin.

Sudah lama penantian kita semua, banyak di antara kita, sudah jengah dengan kondisi yang terjadi di Arsenal. Sejak kita pindah, kita terus melihat kehilangan satu per satu pemain bintang, dan kembali penyakit konsitensi itu kembali. Sejak pindah, dari yang awalnya mengejar trophy menjadi mengejar keuntungan. Sejak kita pindah, semuanya telah berubah. Kondisi perekenomian sudah berubah, kondisi sepakbola pun sudah berubah. Sekarang, adalah masanya Modern Football. Dan karena perubahan itu, Arsenal menjadi bagian yang mau tidak mau ikut dalam arus perubahan tersebut. Membangun stadion baru yang besar dan mewah, namun diikuti dengan utang. Yang menyebabkan keharusan untuk mencari keuntungan untuk dapat membayar utang tersebut.

2014 adalah waktu yang paling banyak gooners nantikan, dan selalu berharap tahun tersebut Arsenal kembali menjadi salah satu kekuatan di eropa. Dengan kondisi utang yang lunas, dan peningkatan pendapatan di sektor sponsor, menjadi salah satu yang sering terdengar sampai saat ini. bahkan di beberapa kesempatan Gazidis sering mengatakan demikian.

Sekarang masih 2013, berarti masih ada waktu setahun lagi untuk membuat alasan dengan keterbatasan dana untuk bergerak di bursa transfer? Entahlah dan gue engga berani untuk mengambil suatu kesimpulan.

Di Eropa, dengan kekuatan ekonominya, Arsenal melawan duo spanyol yang pasti ditopang oleh bank di daerahnya, kenapa? Karena kedua klub ini adalah kebanggan bagi kedua daerah tersebut, dan kedua daerah ini merupakan daerah yang memiliki sejarah panjang. Kedua klub ini sudah besar dan menjadi brand yang mendunia. Sulit untuk menyaingi kedua klub ini, mungkin yang dapat mendekati kedua klub ini adalah, Bayern dan MU. Okelah engga usah dijelaskan lagi,lalu klub-klub yang dimiliki oleh orang-orang kaya yang seperti uangnya tidak pernah habis. Arsenal, bukanlah dimiliki oleh orang kaya yang uangnya engga habis, bukanlah klub yang ditopang perekenomiannya oleh pemerintah, bukanlah klub yang memiliki pemasukan sponsor yang besar, tapi Arsenal adalah Arsenal, yang sedang bergerak untuk terus maju.

Mungkin kesetiaan kita semua sedang diuji, seberapa besar iman dan kecintaan kita ke Arsenal. Seberapa besar kesetiaan kita. Banyak dari kita, tidak lahir disana namun kita memiliki rasa cinta yang sama, dan rasa cinta itu sedang dipertahrukan. Apakah kamu setia menjaga rasa cintamu terhadap klub ini?

Mungkin di antara kita akan ada yang berkata, I’am Arsenal till I die, engga ada yang salah dengan hal itu, tapi apakah yakin? Ada yang mengatakan cinta, namun di tengah jalan putus dan murtad pindah mendukung klub yang lain.

Cinta dengan klub sepakbola itu, samalah kaya orang yang lagi pacaran. Kalau klub itu sering menang dan dapat gelar, akan semakin hangat. Tapi kalau klub itu mulai seret dengan gelar dan selalu bikin kecewa karena di PHP-in terus, ada yang ninggalin. Sama kan kaya pacaran? Kalau pacarnya baik dan perhatian pasti akan lengket, tapi kalau udah dikecewain? Ehem, gimana ya?

Cinta ke suatu klub itu juga butuh yang namanya kepercayaan dan kesabaran. Engga gampang untuk menjaga itu semua di saat gelap dan badai, engga gampang untuk berkata we love you Arsenal di saat krisis seperti ini. tapi karena engga gampang itu semua, ngebuat sesuatu yang kita jaga akan menjadi hal yang luar biasa.

Gue masih ngebayangin gimana rasanya kalau nanti Arsenal juara? Entahlah apa yang akan gue lakukan. Tanpa gelar juara aja, fans Arsenal udah banyak dan militan, apalagi dengan gelar juara?

Sakit itu rasanya, saat mengingat kejadian Carling Cup dan final UCL. Dimana kita sudah satu langkah lagi harus bertahan di langkah sebelumnya dan hanya melihat klub lain mengangkat piala. Mungkin beban pemain Arsenal saat ini begitu berat, kita selalu mengingat dengan kejadian patah kaki Diaby, Eduardo, dan Ramsey, entahlah ini yang menjadi salah satu faktor penyebabnya atau tidak, sehingga pemain jarang untuk melakukan kontak fisik dengan keras.

Mungkin saat ini belum saatnya, tapi gue selalu percaya dalam hati, bahwa semuanya indah pada waktunya, dan semuanya itu akan menjadi semakin bermakna. Gue engga pengen unbeaten jilid dua, itu udah kaya cinta fitri. Gue cuma pengen Arsenal yang kita banggakan kembali bersaing untuk juara kembali.

“She said its for the Arsenal and we’re going to Wembley!”
“Wembley! Wembley!”
“We’re the famous Arsenal and we’re going Wembley”

Mungkin di dalam beberapa kalimat terakhir ini, gooner dan goonerette adalah salah bagian Arsenal, dan mereka adalah orang-orang yang setia menantikan Arsenal, tetap setia menunggu Arsenal juara, setia hingga awan gelap ini berakhir, setia di saat duka maupun suka bersama dengan Arsenal.

Sama seperti di salah satu web yang sedang mewancarai salah satu gooner casual di Indonesia, mendukung suatu klub sepakbola itu sama seperti menikah.

“Que sera sera,
Whatever will be, will be,
We’re going to Wemberly,
Que sera sera…”

Standard

3 thoughts on “Arsenal 4.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s